debut album

12 03 2009

Ada trend baru di facebook -at least antara saya dan teman-teman tertentu-  yaitu mem-posting satu foto dengan judul “MY DEBUT ALBUM”. Ceritanya kita semua ini penyanyi atau band, dan foto ini adalah cover album kita.

Hasil foto ini didapat dengan cara yang sama: gambar didapat dari sebuah situs foto, begitu kita buka situs tersebut, foto yang muncul itulah yang kita pilih, gak boleh nolak. Begitupun dengan nama band diambil dari Wikipedia secara random, plus sebuah situs yang memuat kutipan-kutipan untuk -ceritanya- judul album. Setelah itu semua disatukan di photoshop sesuai kreatifitas masing-masing.

Hasilnya memang lucu-lucu sekali… ada yang “nggak” banget… ada yang keren banget…

Tentu saja setelah di posting, kita men”tag” nama teman-teman yang kita harapkan melihat foto ini, terus duduk-duduk deh menunggu comment mereka… (I think 99 % facebookers are comments freak )

Jadi inilah hasil saya membuat sebuah cover album khayalan… semua gambar dan kata-kata didapat secara random, tapi di postingan saya yang ini semua komentarnya hampir mirip :

ini saya banget :)

picture-5





menjelang malam

10 03 2009

Pantai paling sepi di dunia,

lagi senang malam ini,

karena baru bertemu senja,

senja paling megah di langit.

Pantai tidak bisa tidur,

tertawa-tawa sendiri

bikin laut keki dan iri.

Sementara senja paling megah di langit,

justru bersedih,

karena pertemuan yang singkat dengan pantai,

pantai yang paling sepi.

Senja gelisah sendiri,

menumpuk rindu lagi,

lalu diam-diam menangis.

Airmatanya jatuh ke bumi,

membuat dua remaja kasmaran,

punya alasan untuk berpelukan,

menjelang malam di bawah hujan…





blog

5 03 2009

Saya baru saja mendapat tugas kuliah, untuk mid test tepatnya, dimana tiap mahasiswa diwajibkan membuat blog dengan tema bebas sebagai pengaplikasian teknologi media digital plus memahami lebih jauh pemikiran Clay Shirky dan Techtonic Shift. Dan bagi yang sudah memiliki blog, tidak perlu membuat blog baru tetapi cukup memasukkan postingan baru mengenai hal tersebut di blog.

Wuih… saya membaca tugas tersebut tadi langsung sakit perut, dan makin menjadi-jadi ketika ada catatan tambahan dari sang dosen bahwa nantinya kita akan bisa berdiskusi mengenai blog masing-masing.

Dari yang saya baca secara garis besar aja nih, Clay Shirky ini adalah seseorang yang menulis segala sesuatu mengenai internet, dengan teorinya yang populer “the power of organizing without organization”. Kalau mengenai Techtonic Shift terus terang saya belum paham.

Lalu pertanyaannya, kenapa tiba-tiba perut saya sakit oleh tugas ini? Karena saya tidak paham-paham betul dengan Clay Shirky dan Techtonic Shift kah? Bukan… bukan itu. Perut saya sakit karena membayangnya bahwa blog saya ini yang selama ini tidak saya sebarluaskan ke banyak manusia, hanya segelintir manusia saja yang tau, tiba-tiba harus saya daftarkan di milis kuliah dan kemudian dibaca oleh banyak manusia yang akan saya temui di kelas kuliah nanti.

Maksud saya begini, selama ini kan saya cuma memberitahukan kalau saya punya blog ke sedikit manusia, kalaupun kemudian ternyata banyak yang membaca itu berarti adalah manusia-manusia yang tidak saya kenal langsung. Karena intinya dari awal saya membuat blog ini adalah sebatas untuk diri sendiri, bukan untuk kemudian dibahas atau diperlakukan sebagai, “Eh, katanya lo gini gini yah, gue baca tuh di blog elo.” 

Begitulah kemudian saya bahkan tak pernah menuliskan nama manusia yang saya bahas dalam sebuah postingan secara lengkap, selalu initial, supaya jika dia iseng-iseng googling nama sendiri, dia tetap tidak akan terhubungkan ke blog saya. 

Dan selama satu setengah tahun blog ini ternyata bertahan dalam kesendiriannya. Saya menikmati membayangkan bahwa seandainya pun blog ini banyak dibaca, itu pasti oleh manusia-manusia yang tidak saya kenal, dan karena tidak saya kenal saya pun tidak perlu banyak basa basi, tidak perlu terlalu banyak berpikir, kalau ingin menulis ya menulis saja postingan dan hasilnya memang tulisan dalam blog ini lebih banyak keluar dari hasil merasakan bukan hasil memikirkan…  

Dan kemudian datanglah tugas kuliah ini… membayangkan jika kemudian blog saya ini diangkat jadi topik diskusi, apa kira-kira yang bisa dibahas? Kaki saya yang ekspresif ? Tukang bacang saya? Kampak di sekujur tubuh? Kebiasaan saya memberi nama pada benda mati? Sahabat saya yang namanya Dd? Hahaha… sungguh akan menjadi sebuah bahasan yang aneh dan absurd… Walaupun memang nantinya diskusi akan lebih mengarah ke “blog sebagai media digital”, intinya saya tetap sakit perut. :)

Ini memang media saya menulis. Ini memang digital. Tapi ini saya. Saya yang ketika salah satu teman saya bilang dia tau saya punya blog dan saya langsung panik, “Kok tau??” Dan dia bilang “Kan gue googling nama elo.” dan saya tanggapi dengan, “Ngapain sih googling nama gueeeee???” Saya yang selalu berpikir bahwa googling nama seseorang hanya akan dilakukan ketika kita mencari tau tentang nama manusia yang tidak kita kenal dekat. Saya yang bahagia selama saya tidak perlu bertatapan langsung dengan manusia-manusia yang membaca blog saya.

Mungkin setelah ini saya akan menulis pesan kepada dosen saya bahwa blog ini cukup sebatas dia saja yang baca. Gak papa nambah satu orang lagi yang tau asal bukan ke 90 mahasiswa yang akan saya temui di kelas nanti. Semoga pak dosen mengerti dan tidak mengurangi nilai. :)

Jadi ingat tanggapan saya ke kakak saya yang tau saya punya blog. Setiap kita ketemu dan dia mau membahas isi blog saya, tanggapan saya langsung, “Gak mau dibahaaaaassssss!!!” :)





Rotterdam

4 02 2009

Saya baru saja kembali dari Rotterdam tanggal 2 Februari kemarin, setelah sebelumnya dari tanggal 21 Januari sampai 1 Februari saya mendapat kesempatan untuk hadir sebagai tamu dalam acara Rotterdam Film Festival yang ke-38.

Banyak hal yang baru pertama kali saya lakukan dalam kesempatan tersebut. Ini pertama kali saya ke Eropa. Ini pertama kali saya merasakan udara mencapai minus dua derajat celcius. Ini pertama kali saya melihat hujan salju (norak ya?). Ini pertama kali saya terbang naik pesawat 8 jam lebih. Ini pertama kali saya ada di antara orang-orang “festival” film selama berhari-hari dan melihat kegiatan mereka selama itu.

Disadari atau tidak disadari di dunia film Indonesia, ada istilah-istilah yang kemudian menjurus ke pengkotak-kotakan pelaku yang ada di dalamnya. Istilah film art, film festival muncul untuk film-film yang -sebutan gampangnya- susah dimengerti, penuh simbol, dan membuat penontonnya berpikir selama dan sesudah menontonnya. Tipe film yang para pelakunya tau-tau mendapat cap “idealis”.

Sementara istilah film komersil muncul untuk film-film yang “jualan”, dibuat mengikuti selera pasar, ditonton (atau ketika dibuat, diharapkan akan ditonton) banyak orang, mudah dicerna dan dimengerti. Tipe film yang para pelakunya tau-tau mendapat cap “komersil” atau bahkan “pekerja industri”

Saya sendiri cukup menyadari karena mendengar langsung maupun tak langsung bahwa saya mendapat cap golongan kedua. Komersil. Industri. Dan lain sebagainya.

Terus terang saya tidak menyukai pengkotak-kotakan, tapi saya juga tidak bisa protes, jangankan dalam dunia film, dalam dunia yang sebenarnya alias hidup, selalu ada pengkotak-kotakan. Sosial, gender, umur, apa pun. Suka maupun tidak suka.

Jadi, kembali ke topik, selama seminggu kemarin bisa dibilang saya adalah si komersil yang berada di antara kaum idealis.

Bagaimana perasaan saya? Hahaha… tentu saja saya merasa sangat beruntung. Melebihi rasa beruntung saya bisa merasakan daratan Eropa untuk pertama kali (karena kalau soal itu pasti sudah banyak yang merasakan keberuntungan yang sama bahkan sampai berkali-kali ya?). Tapi lebih karena itu tadi, saya baru menemukan arti yang sebenarnya yang pernah dikatakan oleh sutradara RR kepada saya sekian waktu lampau, “Elo itu beruntung karena elo mengenal dekat orang-orang seperti A, B, C yang idealis, sekaligus dekat dengan si D, E, F, yang komersil. Karena ada banyak orang yang cuma bisa nyaman dengan A, B, C atau cuma bisa nyaman dengan D, E, F. Dari posisi lo, lo bisa belajar untuk menjadi diri lo sendiri yang mampu menyamankan semuanya.”

Di Rotterdam itulah kemudian saya belajar melihat hidup manusia-manusia yang sepenuhnya untuk film, membuat film dengan hati, dan juga kenyataan bahwa bahkan film yang katanya susah dimengerti, toh bioskopnya selalu dipenuhi penonton yang mau berusaha membaca maksud si pembuat.

Sekali lagi saya harus bilang bahwa saya tidak suka pengkotak-kotakan, jadi tentu saja saya tidak mau bilang kotak mana yang lebih baik. Karena di kotak yang sebelumnya sudah sering saya rasakan, saya juga banyak belajar, bagaimana membuat film dengan perhitungan sana sini, bagaimana kalau mau hidup sepenuhnya UNTUK film berarti juga harus tau bagaimana hidup DARI film, dan bagaimana pembuatlah yang belajar membaca kemauan penonton.

Pertanyaannya sekarang, setelah semua yang saya lalui, setelah saya dibilang mempunyai posisi yang menguntungkan, mampukah saya menjadi diri sendiri yang bisa diterima oleh kotak manapun?

Bukan hal yang mudah. Bukan juga hal yang mustahil saya rasa. Bukan juga bahwa tak ada manusia lain yang berusaha melakukannya. Mungkin sebagian manusia film juga menginginkan bisa membuat sesuatu yang “bagus” sekaligus “laku”, menggabungkan dua kata yang perlu usaha extra tapi saya tau bisa dilakukan dan sudah dilakukan oleh beberapa pelaku film.

Intinya, saya seharusnya bisa melakukannya. Saya sudah belajar banyak, melihat banyak, mendengar banyak. Tinggal kapan saya mau memulainya.

Walaupun pada akhirnya toh saya kembali berpegang pada perkataan salah satu sutradara juga –Edw-, bahwa film dibuat bukan karena untuk piala atau untuk uang, tapi sebuah film dibuat karena film itu memang harus dibuat.

Sebuah film ada karena memang takdirnya untuk ada….

Selamat untuk film “Blind Pig Who Wants To Fly” yang meraih Fripesci Award (Penghargaan dari Para Kritikus Film International) dalam Rotterdam Film Festival 2009. Film Indonesia pertama yang diikutsertakan dalam kompetisi festival tersebut, sekaligus film dimana bukan saya penulisnya, tapi ucapan terimakasih para pembuatnya kepada saya sebagai sahabat, membuat saya mendapat kesempatan berada di Rotterdam. Terimakasih Dd, Edw, Sid, dan semuanya. :)

img_1191





Bacaaaaang…

7 01 2009

Beberapa minggu terakhir, semenjak pekerjaan yang menumpuk di akhir tahun yang kemudian tentu saja bergeser sedikit ke awal tahun baru, saya jadi cenderung untuk bekerja hingga subuh bahkan pagi. Disinilah lalu saya berkenalan dengan seseorang yang tidak saya tau rupanya tapi kehadirannya selalu diwakilkan lewat suara saja yaitu tukang bacang.

Ya, tukang bacang yang setiap dini hari muncul sebagai yang pertama berjualan melewati depan rumah saya, mendahului penjual lainnya, sambil berteriak “Bacaaaang… Bacaaaang… Bacang Sapi… Bacang Ayam… Bacaaaaang…”

Semenjak pertama kali menyadari kehadirannya, sampai detik ini saya belum pernah melihat seperti apa rupanya si tukang bacang ini. Cuma suaranya saja yang terdengar sayup ketika waktu menunjukkan pukul 5 lewat 10 atau 15 menit. Pagi sekali memang. Suara dia lah kemudian saya jadikan patokan untuk menutup laptop dan pergi tidur. 

Saya kerap membayangkan seperti apa sosoknya. Seorang manusia yang pagi-pagi buta berjalan menembus remang, berteriak “Bacaaaaaangg…” dan selama ini tak pernah saya dengar ada suara dari tetangga sekitar rumah saya yang kemudian memanggilnya “Bacang! Sini!”. Manusia yang kemudian berputar di ujung gang buntu, kembali ke jalan utama tetap dengan teriakan “Bacaaaangg” nya lalu menghilang lagi di dalam remang.

Cuma pada tanggal 1 Januari kemarin saja saya tidak mendengar suaranya. Ternyata bahkan si manusia remang itu ikut menyambut tahun baru :) Barulah tanggal 2 Januari sampai tadi pagi saya kembali mendengar suaranya.

Sayangnya dua hari terakhir ini si Tukang Bacang muncul lebih siang, sekitar jam 6 lewat, kali ini kalah cepat dengan Tukang Roti yang suaranya berisik sekali. Si manusia remang mungkin telat bangun sehingga jadi manusia pagi pada umumnya. Anehnya,  jam berapapun dia muncul -atau lebih tepatnya terdengar- , saya tetap menjadikannya patokan untuk berhenti bekerja dan naik ke kasur. 

Satu hal lagi… sebenarnya saya penasaran juga ingin mengintip lewat jendela seperti apa sosoknya, apalagi dua hari terakhir ini dia muncul lebih siang ketika hari sudah terang. Tapi kemudian saya mengalahkan sendiri rasa penasaran itu. Biarlah saya tidak perlu tau seperti apa dia sebenarnya. Biarlah dia tetap menjadi manusia remang bagi saya. 

Saya cuma berharap supaya suatu hari nanti, di suatu bumi yang berbeda mungkin, Tukang Bacang yang saya yakin baik hati itu akhirnya tau bahwa suara atau teriakannya mendapat balasan, walau cuma balasan bisu dari saya. Semoga di kesempatan itu juga saya bisa berterima kasih kepada dia karena menambah daftar teman saya. Saya dan dia memang sudah seperti sahabat karib yang setiap pagi tanpa disadari melakukan aksi dan reaksi. Dia melakukan aksi bersuara, saya bereaksi dengan berhenti mengetik, naik ke kasur dan menutup mata sambil menyelipkan sedikit doa semoga si Tukang Bacang, manusia remang saya itu, selalu bahagia :)





2009

31 12 2008

Sebentar lagi… dalam hitungan jam… tahun bergeser dari 2008 ke 2009…

Saat-saat yang tepat untuk kontempelasi plus membuat resolusi tahun depan, katanya. Buat saya arti hidup toh masih dan akan tetap sama, yaitu sebuah proses mengkoleksi kebahagiaan dan kesedihan. Tentu saja di antara itu ada puncak-puncak bahagia plus jurang-jurang air mata. Yang pasti semua terjadi dan akan terus terjadi…

Seperti yang pernah saya baca, ada sebuah kutipan yang mengatakan “Jangan berdoa untuk hidup yang mudah, berdoalah untuk menjadi orang yang kuat.” Sebuah kutipan yang berlaku di sepanjang hidup manusia…

HAPPY NEW YEAR 2009.





undangan

10 12 2008

Sebuah ajang festival film di Jakarta tadi malam baru saja berakhir. Sama seperti malam pembukaannya 5 hari yang lalu, tadi malam saya pun menghadiri malam penutupannya. Bersamaan dengan acara tersebut, di sebuah mall yang berbeda, yang cuma berjarak “tinggal nyebrang”, juga berlangsung acara premiere sebuah film baru. Walhasil, setelah acara penutupan festival, manusia-manusia film pun beramai-ramai pindah “venue”.

Acara-acara seperti malam pembukaan, malam penutupan, dan premiere film ternyata memang punya fungsi lain yang selalu mengikuti yaitu ajang pembuktian eksistensi diri untuk manusia-manusia film. Selain lewat karya, kehadiran fisik ternyata tetap penting sebagai cara untuk bilang ,”gue masih ada, gue masih bagian dari industri ini.” Setiap obrolan dibuka dengan, “Lagi sibuk apa sekarang?” atau “Lagi ngerjain film apa?”… pertanyaan yang terus terang kurang begitu saya sukai.

Saya pribadi kurang pandai basa basi, berkata-kata, apalagi yang tujuannya promosi diri (that’s why I think I have a manager to do those “bla bla bla” things, hehehe). Anyway, masalahnya, sepertinya… kepandaian berbasa-basi sangat diperlukan dalam menghadiri sebuah undangan, kalau tidak mau dibilang sombong. Damn… :)

Belum lagi masalah siapa yang diundang siapa yang tidak diundang. Kayaknya penting banget. Ada manusia-manusia yang bisa kecewa, marah, tersinggung kalau tidak dapat undangan premiere film anu… “Kok gue gak diundang yah?”… Seperti menghadapi sebuah permasalahan yang luar biasa. 

Tapi ada juga manusia-manusia yang sudah berada di jajaran elite, yang tidak butuh undangan, kepopuleran nya menjadikan dia tinggal dateng dan boleh masuk. Manusia-manusia yang disebut “wajah undangan”. Seperti yang terjadi tadi malam, ketika kami bertemu di acara penutupan festival film, dan dia bilang, “Abis ini ke premiere sebelah kan?” Terus saya bilang saya gak diundang dan dia bilang, “Saya juga gak punya undangan, cuek aja, masuk aja.” Dan dalam hati saya cuma bilang, “Elo enak, muka lo muka undangan.” Hehehe…

Walaupun kemudian saya pindah juga ke seberang, ke acara premiere tersebut, dan walaupun menurut beberapa manusia lain ternyata saya juga gak butuh undangan, atau wajah saya ternyata sudah dianggap wajah undangan, saya akhirnya memutuskan tidak masuk menonton, cuma duduk-duduk saja di kafe dan main internet, alasan saya sebenernya simple saja: begitu melihat “venue” dari kejauhan, melihat manusia-manusia itu lagi, saya tau gak mungkin deh saya melakukan basa basi things di dua tempat berbeda dalam satu malam. Di tempat sebelumnya aja saya udah mulai bosen, apalagi harus lanjut lagi…

Dan kemudian saya melihat sahabat saya Dd, yang seinget saya juga bukan tipe yang senang berbasa-basi tapi karena tuntutan pekerjaannya yang sekarang sebagai produser mengharuskan dia berdiri di sana, di antara keramaian, doing the “bla bla bla” things, melakukan hal-hal -istilah Dd- “communal”, saya jadi ingat istilah kami berdua kalau dalam keramaian yang lebih dari 10 orang, rasanya seperti “ada kampak di sekujur tubuh”. Hehehe…

So, sebelum “kampak” itu menancap di saya, saya putuskan minggir, ngumpet di kafe dan main chapsa online… :)





old lessons

21 11 2008

manusia sering mencari tanpa tau apa sebenarnya yang sudah hilang

manusia merasa kehilangan tanpa tau apa sebenarnya yang pernah dia temukan

manusia kemudian menemukan tanpa tau apa sebenarnya yang dia cari





“L”

8 11 2008

Life is a collection of many small surprises which at the end they’ll become one big surprise named… life.





suara saya:

3 11 2008

    

mari bersuara bersama saya!