bertahan

10 09 2009

Beberapa waktu yang lalu saya bertemu dengan seorang teman saya, sebut saja YY. YY ini setahun yang lalu pernah memanggil saya untuk berbicara empat mata dan menawarkan saya untuk menjadi penulis tetap di Production House (PH) nya. Saat itu angka yang ia tawarkan terus terang sangat menggiurkan, tapi berhubung saya belum mau terikat ke salah satu PH dengan berat hati saya menolak tawaran itu. YY dengan PH nya di waktu itu bisa dibilang sedang “naik daun”. Beberapa film yang ia produksi menembus angka di atas satu juta penonton sementara biaya produksi yang ia keluarkan bisa dibilang “tidak besar”. Intinya untung gila-gilaan lah saat itu.
Anyway, beberapa waktu yang lalu saya bertemu dia lagi. Sejak pembicaraan kami terakhir, kami belum pernah bertemu lagi. Saya menanyakan kabarnya. Dan jawaban ia lumayan mengejutkan. “Gue udah gak di film. Capek.”
Sesuatu yang tidak saya harapkan keluar dari mulut yang setahun yang lalu berkata, “Ayolah bikin film sama kita. Lo liat film-film gue, semuanya untung.”
Tapi begitulah… ternyata dunia yang menguntungkan buat dia tidak bisa juga membuat dia bertahan di situ. Mungkin juga setelah urutan peristiwa yang menguntungkan, dia mengalami kerugian yang membuat dia memilih pergi. Saya juga kurang tahu. Yang saya tahu akhirnya adalah betapa susahnya memang bertahan di satu tempat ketika tempat itu memang sudah tak menghasilkan apa-apa. Cuma cinta kepada tempat itulah yang bisa membuat kita bertahan.
Seorang sutradara pernah berkata kepada saya, “Gak mungkin gue terus disini kalo gue gak cinta sama film.” atau ada lagi yang bilang, “Cuma orang-orang gila yang bisa bertahan di film.”
Buat saya simple aja… bahwa gak ada yang namanya orang gagal, yang ada cuma mereka yang memilih berhenti terlalu cepat.
Semoga UU Perfilman yang baru disahkan (yang sebenarnya isinya kurang menguntungkan bagi kami-kami yang bekerja di fiilm) tidak mematahkan semangat manusia-manusia yang sampai detik ini masih bertahan di film karena satu hal: cinta.


Actions

Information

2 responses

3 10 2009
fox

betapa susahnya memang bertahan di satu tempat ketika tempat itu memang sudah tak menghasilkan apa-apa. Cuma cinta kepada tempat itulah yang bisa membuat kita bertahan… Bener bgt nih Nut…

3 10 2009
Yayiek

Bener banget…
Banyak pengalaman aku yang membenarkan kata2 Tinut di blog ini..

pGz misalnya… Aku, Andre dan mas Tri berusaha mati2an supaya tempat itu nggak mati… Padahal tiap ngomongin kelangsungan hidup pGz, aku selalu nangis, karna emang udah nggak bisa ngapa2in. Ibaratnya orang lumpuh, dia pasti jatuh & jatuh lagi pas mau nyoba jalan. Emang cuma karna cinta sama pGz yang bikin kita bertahan sampe titik darah penghabisan… dan menyerah karna emang udah nggak punya tenaga lagi buat berjalan :-(

satu lagi adalah Twilite. Orang sering bilang sama aku,”Betah amat loe disitu, emangnya Twilite bisa bikin loe kaya?” … aku cuma bisa senyum doang dengernya… Emang sih 15 tahun disitu aku nggak kaya sama sekali, tapi aku cinta mati sama Twilite dengan segala kekurangannya.. terserah org mau bilang apa, cuma karna kecintaan aku sama tempat itu yang bikin nggak mau ninggalin 1 pun eventnya… :-)

*comment kok panjang amat ya… ini mah curhat..hehehe*

Leave a comment