Dulu setelah menonton film “Matrix”, saya berpikir jangan-jangan sebenarnya saya hidup sendirian di dunia ini, dan manusia-manusia lain cuma program komputer yang diciptakan “Sesuatu Yang Besar” untuk saya.
Tentu saja seiring dengan waktu berjalan, khayalan itu memudar… walau tak jarang bisa muncul lagi… buat bahan saya berimajinasi.
Bagaimana seandainya sejak saya lahir, bahkan semua anggota keluarga saya cuma program komputer? bahwa semua yang terjadi memang bagian dari program komputer yang dibuat untuk saya? bahwa papa dan mama tidak meninggal, mereka memang cuma diprogram seperti itu?
Bagaimana seandainya setiap kejadian yang saya alami tidak pernah benar-benar terjadi? bahwa ketika saya tidak berada di suatu tempat, maka di tempat itu tak ada kehidupan sebenarnya? bahwa program tersebut cuma running di sekitar saya, apa yang saya lihat, saya dengar dan saya rasakan…
Bayangkan ketika saya melewati sebuah jalan yang ramai, begitu saya berbelok menghilang di ujung jalan, keramaian di jalan itu praktis berhenti karena saya tak ada di situ?
Atau papa dan mama yang buat saya sudah meninggal ternyata kemudian di re-program oleh Sang Pembuat menjadi manusia lain yang fungsinya cuma mengisi keramaian ketika saya jalan-jalan di mall?
Dan begitulah khayalan-khayalan absurd saya datang kemudian pergi…
Sampai tadi pagi…
Televisi menyiarkan berita itu… Pemboman di dua hotel yang berdekatan di kawasan Mega Kuningan, Jakarta. Puluhan korban luka bahkan meninggal. Indonesia marah sekaligus menangis. Jakarta berduka. Facebook penuh oleh cacian makian, berbarengan dengan doa dan rintihan. Saya… merenung menatap televisi. Lalu… saya memejamkan mata dan kembali berkhayal “ini semua cuma program komputer. tragedi ini tak benar-benar terjadi. manusia-manusia yang kesakitan yang saya lihat di televisi cuma program komputer. penderitaan itu tak benar-benar ada…”
lalu… saya membuka mata… dan untuk pertama kalinya imajinasi saya yang seabsurd apapun biasanya bisa membantu menenangkan saya, kali ini tak berfungsi…
Ini benar terjadi… bom itu benar ada… terorist-terorist itu benar ada… manusia-manusia yang sedang kesakitan itu benar-benar ada… dan cuma berjarak beberapa kilometer dari saya…
Ada yang menangis karena jadi korban, ada yang menangis untuk rekan-rekannya yang jadi korban, bahkan ada yang menangis sekedar karena tim sepakbola MU tak jadi datang karena bom itu… semua menangis…
Saya juga menangis… karena khayalan… seberapapun absurdnya… tak mampu lagi menyembuhkan rasa sakit yang dibuat oleh kenyataan…
Kemudian saya mengganti khayalan saya… “Para korban yang tak bersalah saat ini sedang mengantri untuk diberi sayap oleh Tuhan. Setelah diberi sayap, mereka akan terbang sebagai malaikat-malaikat kecil yang bercahaya.”
Ah… itu bukan khayalan… saya yakin itu kenyataan…
Recent Comments