Saya baru saja mendapat tugas kuliah, untuk mid test tepatnya, dimana tiap mahasiswa diwajibkan membuat blog dengan tema bebas sebagai pengaplikasian teknologi media digital plus memahami lebih jauh pemikiran Clay Shirky dan Techtonic Shift. Dan bagi yang sudah memiliki blog, tidak perlu membuat blog baru tetapi cukup memasukkan postingan baru mengenai hal tersebut di blog.
Wuih… saya membaca tugas tersebut tadi langsung sakit perut, dan makin menjadi-jadi ketika ada catatan tambahan dari sang dosen bahwa nantinya kita akan bisa berdiskusi mengenai blog masing-masing.
Dari yang saya baca secara garis besar aja nih, Clay Shirky ini adalah seseorang yang menulis segala sesuatu mengenai internet, dengan teorinya yang populer “the power of organizing without organization”. Kalau mengenai Techtonic Shift terus terang saya belum paham.
Lalu pertanyaannya, kenapa tiba-tiba perut saya sakit oleh tugas ini? Karena saya tidak paham-paham betul dengan Clay Shirky dan Techtonic Shift kah? Bukan… bukan itu. Perut saya sakit karena membayangnya bahwa blog saya ini yang selama ini tidak saya sebarluaskan ke banyak manusia, hanya segelintir manusia saja yang tau, tiba-tiba harus saya daftarkan di milis kuliah dan kemudian dibaca oleh banyak manusia yang akan saya temui di kelas kuliah nanti.
Maksud saya begini, selama ini kan saya cuma memberitahukan kalau saya punya blog ke sedikit manusia, kalaupun kemudian ternyata banyak yang membaca itu berarti adalah manusia-manusia yang tidak saya kenal langsung. Karena intinya dari awal saya membuat blog ini adalah sebatas untuk diri sendiri, bukan untuk kemudian dibahas atau diperlakukan sebagai, “Eh, katanya lo gini gini yah, gue baca tuh di blog elo.”
Begitulah kemudian saya bahkan tak pernah menuliskan nama manusia yang saya bahas dalam sebuah postingan secara lengkap, selalu initial, supaya jika dia iseng-iseng googling nama sendiri, dia tetap tidak akan terhubungkan ke blog saya.
Dan selama satu setengah tahun blog ini ternyata bertahan dalam kesendiriannya. Saya menikmati membayangkan bahwa seandainya pun blog ini banyak dibaca, itu pasti oleh manusia-manusia yang tidak saya kenal, dan karena tidak saya kenal saya pun tidak perlu banyak basa basi, tidak perlu terlalu banyak berpikir, kalau ingin menulis ya menulis saja postingan dan hasilnya memang tulisan dalam blog ini lebih banyak keluar dari hasil merasakan bukan hasil memikirkan…
Dan kemudian datanglah tugas kuliah ini… membayangkan jika kemudian blog saya ini diangkat jadi topik diskusi, apa kira-kira yang bisa dibahas? Kaki saya yang ekspresif ? Tukang bacang saya? Kampak di sekujur tubuh? Kebiasaan saya memberi nama pada benda mati? Sahabat saya yang namanya Dd? Hahaha… sungguh akan menjadi sebuah bahasan yang aneh dan absurd… Walaupun memang nantinya diskusi akan lebih mengarah ke “blog sebagai media digital”, intinya saya tetap sakit perut.
Ini memang media saya menulis. Ini memang digital. Tapi ini saya. Saya yang ketika salah satu teman saya bilang dia tau saya punya blog dan saya langsung panik, “Kok tau??” Dan dia bilang “Kan gue googling nama elo.” dan saya tanggapi dengan, “Ngapain sih googling nama gueeeee???” Saya yang selalu berpikir bahwa googling nama seseorang hanya akan dilakukan ketika kita mencari tau tentang nama manusia yang tidak kita kenal dekat. Saya yang bahagia selama saya tidak perlu bertatapan langsung dengan manusia-manusia yang membaca blog saya.
Mungkin setelah ini saya akan menulis pesan kepada dosen saya bahwa blog ini cukup sebatas dia saja yang baca. Gak papa nambah satu orang lagi yang tau asal bukan ke 90 mahasiswa yang akan saya temui di kelas nanti. Semoga pak dosen mengerti dan tidak mengurangi nilai.
Jadi ingat tanggapan saya ke kakak saya yang tau saya punya blog. Setiap kita ketemu dan dia mau membahas isi blog saya, tanggapan saya langsung, “Gak mau dibahaaaaassssss!!!”
Recent Comments