Saya baru saja kembali dari Rotterdam tanggal 2 Februari kemarin, setelah sebelumnya dari tanggal 21 Januari sampai 1 Februari saya mendapat kesempatan untuk hadir sebagai tamu dalam acara Rotterdam Film Festival yang ke-38.
Banyak hal yang baru pertama kali saya lakukan dalam kesempatan tersebut. Ini pertama kali saya ke Eropa. Ini pertama kali saya merasakan udara mencapai minus dua derajat celcius. Ini pertama kali saya melihat hujan salju (norak ya?). Ini pertama kali saya terbang naik pesawat 8 jam lebih. Ini pertama kali saya ada di antara orang-orang “festival” film selama berhari-hari dan melihat kegiatan mereka selama itu.
Disadari atau tidak disadari di dunia film Indonesia, ada istilah-istilah yang kemudian menjurus ke pengkotak-kotakan pelaku yang ada di dalamnya. Istilah film art, film festival muncul untuk film-film yang -sebutan gampangnya- susah dimengerti, penuh simbol, dan membuat penontonnya berpikir selama dan sesudah menontonnya. Tipe film yang para pelakunya tau-tau mendapat cap “idealis”.
Sementara istilah film komersil muncul untuk film-film yang “jualan”, dibuat mengikuti selera pasar, ditonton (atau ketika dibuat, diharapkan akan ditonton) banyak orang, mudah dicerna dan dimengerti. Tipe film yang para pelakunya tau-tau mendapat cap “komersil” atau bahkan “pekerja industri”
Saya sendiri cukup menyadari karena mendengar langsung maupun tak langsung bahwa saya mendapat cap golongan kedua. Komersil. Industri. Dan lain sebagainya.
Terus terang saya tidak menyukai pengkotak-kotakan, tapi saya juga tidak bisa protes, jangankan dalam dunia film, dalam dunia yang sebenarnya alias hidup, selalu ada pengkotak-kotakan. Sosial, gender, umur, apa pun. Suka maupun tidak suka.
Jadi, kembali ke topik, selama seminggu kemarin bisa dibilang saya adalah si komersil yang berada di antara kaum idealis.
Bagaimana perasaan saya? Hahaha… tentu saja saya merasa sangat beruntung. Melebihi rasa beruntung saya bisa merasakan daratan Eropa untuk pertama kali (karena kalau soal itu pasti sudah banyak yang merasakan keberuntungan yang sama bahkan sampai berkali-kali ya?). Tapi lebih karena itu tadi, saya baru menemukan arti yang sebenarnya yang pernah dikatakan oleh sutradara RR kepada saya sekian waktu lampau, “Elo itu beruntung karena elo mengenal dekat orang-orang seperti A, B, C yang idealis, sekaligus dekat dengan si D, E, F, yang komersil. Karena ada banyak orang yang cuma bisa nyaman dengan A, B, C atau cuma bisa nyaman dengan D, E, F. Dari posisi lo, lo bisa belajar untuk menjadi diri lo sendiri yang mampu menyamankan semuanya.”
Di Rotterdam itulah kemudian saya belajar melihat hidup manusia-manusia yang sepenuhnya untuk film, membuat film dengan hati, dan juga kenyataan bahwa bahkan film yang katanya susah dimengerti, toh bioskopnya selalu dipenuhi penonton yang mau berusaha membaca maksud si pembuat.
Sekali lagi saya harus bilang bahwa saya tidak suka pengkotak-kotakan, jadi tentu saja saya tidak mau bilang kotak mana yang lebih baik. Karena di kotak yang sebelumnya sudah sering saya rasakan, saya juga banyak belajar, bagaimana membuat film dengan perhitungan sana sini, bagaimana kalau mau hidup sepenuhnya UNTUK film berarti juga harus tau bagaimana hidup DARI film, dan bagaimana pembuatlah yang belajar membaca kemauan penonton.
Pertanyaannya sekarang, setelah semua yang saya lalui, setelah saya dibilang mempunyai posisi yang menguntungkan, mampukah saya menjadi diri sendiri yang bisa diterima oleh kotak manapun?
Bukan hal yang mudah. Bukan juga hal yang mustahil saya rasa. Bukan juga bahwa tak ada manusia lain yang berusaha melakukannya. Mungkin sebagian manusia film juga menginginkan bisa membuat sesuatu yang “bagus” sekaligus “laku”, menggabungkan dua kata yang perlu usaha extra tapi saya tau bisa dilakukan dan sudah dilakukan oleh beberapa pelaku film.
Intinya, saya seharusnya bisa melakukannya. Saya sudah belajar banyak, melihat banyak, mendengar banyak. Tinggal kapan saya mau memulainya.
Walaupun pada akhirnya toh saya kembali berpegang pada perkataan salah satu sutradara juga –Edw-, bahwa film dibuat bukan karena untuk piala atau untuk uang, tapi sebuah film dibuat karena film itu memang harus dibuat.
Sebuah film ada karena memang takdirnya untuk ada….
Selamat untuk film “Blind Pig Who Wants To Fly” yang meraih Fripesci Award (Penghargaan dari Para Kritikus Film International) dalam Rotterdam Film Festival 2009. Film Indonesia pertama yang diikutsertakan dalam kompetisi festival tersebut, sekaligus film dimana bukan saya penulisnya, tapi ucapan terimakasih para pembuatnya kepada saya sebagai sahabat, membuat saya mendapat kesempatan berada di Rotterdam. Terimakasih Dd, Edw, Sid, dan semuanya.

Recent Comments