Bacaaaaang…

7 01 2009

Beberapa minggu terakhir, semenjak pekerjaan yang menumpuk di akhir tahun yang kemudian tentu saja bergeser sedikit ke awal tahun baru, saya jadi cenderung untuk bekerja hingga subuh bahkan pagi. Disinilah lalu saya berkenalan dengan seseorang yang tidak saya tau rupanya tapi kehadirannya selalu diwakilkan lewat suara saja yaitu tukang bacang.

Ya, tukang bacang yang setiap dini hari muncul sebagai yang pertama berjualan melewati depan rumah saya, mendahului penjual lainnya, sambil berteriak “Bacaaaang… Bacaaaang… Bacang Sapi… Bacang Ayam… Bacaaaaang…”

Semenjak pertama kali menyadari kehadirannya, sampai detik ini saya belum pernah melihat seperti apa rupanya si tukang bacang ini. Cuma suaranya saja yang terdengar sayup ketika waktu menunjukkan pukul 5 lewat 10 atau 15 menit. Pagi sekali memang. Suara dia lah kemudian saya jadikan patokan untuk menutup laptop dan pergi tidur. 

Saya kerap membayangkan seperti apa sosoknya. Seorang manusia yang pagi-pagi buta berjalan menembus remang, berteriak “Bacaaaaaangg…” dan selama ini tak pernah saya dengar ada suara dari tetangga sekitar rumah saya yang kemudian memanggilnya “Bacang! Sini!”. Manusia yang kemudian berputar di ujung gang buntu, kembali ke jalan utama tetap dengan teriakan “Bacaaaangg” nya lalu menghilang lagi di dalam remang.

Cuma pada tanggal 1 Januari kemarin saja saya tidak mendengar suaranya. Ternyata bahkan si manusia remang itu ikut menyambut tahun baru :) Barulah tanggal 2 Januari sampai tadi pagi saya kembali mendengar suaranya.

Sayangnya dua hari terakhir ini si Tukang Bacang muncul lebih siang, sekitar jam 6 lewat, kali ini kalah cepat dengan Tukang Roti yang suaranya berisik sekali. Si manusia remang mungkin telat bangun sehingga jadi manusia pagi pada umumnya. Anehnya,  jam berapapun dia muncul -atau lebih tepatnya terdengar- , saya tetap menjadikannya patokan untuk berhenti bekerja dan naik ke kasur. 

Satu hal lagi… sebenarnya saya penasaran juga ingin mengintip lewat jendela seperti apa sosoknya, apalagi dua hari terakhir ini dia muncul lebih siang ketika hari sudah terang. Tapi kemudian saya mengalahkan sendiri rasa penasaran itu. Biarlah saya tidak perlu tau seperti apa dia sebenarnya. Biarlah dia tetap menjadi manusia remang bagi saya. 

Saya cuma berharap supaya suatu hari nanti, di suatu bumi yang berbeda mungkin, Tukang Bacang yang saya yakin baik hati itu akhirnya tau bahwa suara atau teriakannya mendapat balasan, walau cuma balasan bisu dari saya. Semoga di kesempatan itu juga saya bisa berterima kasih kepada dia karena menambah daftar teman saya. Saya dan dia memang sudah seperti sahabat karib yang setiap pagi tanpa disadari melakukan aksi dan reaksi. Dia melakukan aksi bersuara, saya bereaksi dengan berhenti mengetik, naik ke kasur dan menutup mata sambil menyelipkan sedikit doa semoga si Tukang Bacang, manusia remang saya itu, selalu bahagia :)