2009

31 12 2008

Sebentar lagi… dalam hitungan jam… tahun bergeser dari 2008 ke 2009…

Saat-saat yang tepat untuk kontempelasi plus membuat resolusi tahun depan, katanya. Buat saya arti hidup toh masih dan akan tetap sama, yaitu sebuah proses mengkoleksi kebahagiaan dan kesedihan. Tentu saja di antara itu ada puncak-puncak bahagia plus jurang-jurang air mata. Yang pasti semua terjadi dan akan terus terjadi…

Seperti yang pernah saya baca, ada sebuah kutipan yang mengatakan “Jangan berdoa untuk hidup yang mudah, berdoalah untuk menjadi orang yang kuat.” Sebuah kutipan yang berlaku di sepanjang hidup manusia…

HAPPY NEW YEAR 2009.





undangan

10 12 2008

Sebuah ajang festival film di Jakarta tadi malam baru saja berakhir. Sama seperti malam pembukaannya 5 hari yang lalu, tadi malam saya pun menghadiri malam penutupannya. Bersamaan dengan acara tersebut, di sebuah mall yang berbeda, yang cuma berjarak “tinggal nyebrang”, juga berlangsung acara premiere sebuah film baru. Walhasil, setelah acara penutupan festival, manusia-manusia film pun beramai-ramai pindah “venue”.

Acara-acara seperti malam pembukaan, malam penutupan, dan premiere film ternyata memang punya fungsi lain yang selalu mengikuti yaitu ajang pembuktian eksistensi diri untuk manusia-manusia film. Selain lewat karya, kehadiran fisik ternyata tetap penting sebagai cara untuk bilang ,”gue masih ada, gue masih bagian dari industri ini.” Setiap obrolan dibuka dengan, “Lagi sibuk apa sekarang?” atau “Lagi ngerjain film apa?”… pertanyaan yang terus terang kurang begitu saya sukai.

Saya pribadi kurang pandai basa basi, berkata-kata, apalagi yang tujuannya promosi diri (that’s why I think I have a manager to do those “bla bla bla” things, hehehe). Anyway, masalahnya, sepertinya… kepandaian berbasa-basi sangat diperlukan dalam menghadiri sebuah undangan, kalau tidak mau dibilang sombong. Damn… :)

Belum lagi masalah siapa yang diundang siapa yang tidak diundang. Kayaknya penting banget. Ada manusia-manusia yang bisa kecewa, marah, tersinggung kalau tidak dapat undangan premiere film anu… “Kok gue gak diundang yah?”… Seperti menghadapi sebuah permasalahan yang luar biasa. 

Tapi ada juga manusia-manusia yang sudah berada di jajaran elite, yang tidak butuh undangan, kepopuleran nya menjadikan dia tinggal dateng dan boleh masuk. Manusia-manusia yang disebut “wajah undangan”. Seperti yang terjadi tadi malam, ketika kami bertemu di acara penutupan festival film, dan dia bilang, “Abis ini ke premiere sebelah kan?” Terus saya bilang saya gak diundang dan dia bilang, “Saya juga gak punya undangan, cuek aja, masuk aja.” Dan dalam hati saya cuma bilang, “Elo enak, muka lo muka undangan.” Hehehe…

Walaupun kemudian saya pindah juga ke seberang, ke acara premiere tersebut, dan walaupun menurut beberapa manusia lain ternyata saya juga gak butuh undangan, atau wajah saya ternyata sudah dianggap wajah undangan, saya akhirnya memutuskan tidak masuk menonton, cuma duduk-duduk saja di kafe dan main internet, alasan saya sebenernya simple saja: begitu melihat “venue” dari kejauhan, melihat manusia-manusia itu lagi, saya tau gak mungkin deh saya melakukan basa basi things di dua tempat berbeda dalam satu malam. Di tempat sebelumnya aja saya udah mulai bosen, apalagi harus lanjut lagi…

Dan kemudian saya melihat sahabat saya Dd, yang seinget saya juga bukan tipe yang senang berbasa-basi tapi karena tuntutan pekerjaannya yang sekarang sebagai produser mengharuskan dia berdiri di sana, di antara keramaian, doing the “bla bla bla” things, melakukan hal-hal -istilah Dd- “communal”, saya jadi ingat istilah kami berdua kalau dalam keramaian yang lebih dari 10 orang, rasanya seperti “ada kampak di sekujur tubuh”. Hehehe…

So, sebelum “kampak” itu menancap di saya, saya putuskan minggir, ngumpet di kafe dan main chapsa online… :)