hari ini

21 10 2008

Sepertinya hari ini bisa masuk di dalam hari saya paling banyak bicara. Saya juga gak tau kenapa. Mungkin karena hari ini ini dibuka langsung oleh dua sesi wawancara. Satu untuk radio. Satu untuk televisi. Dan namanya juga wawancara, dimana saya ditanya dan harus menjawab biar gak kelihatan bego-bego amat dan biar gak dibilang “orangnya gak asyik” jadi saya juga harus bisa memanjang-manjangkan jawaban saya. Mungkin itu makanya ke jam-jam berikutnya saya jadi keterusan ngomong terus.

Dari shooting program televisi sebenernya saya udah berniat “menyepi” karena mau menulis. Tapi begitu sampai di kafe tujuan, ya kok spot favorit saya di kafe udah sudah terisi. Akhirnya saya malah masuk ke kantor pemilik kafe yang kebetulan teman saya sendiri, yang kebetulan juga udah cukup lama gak ketemu, yang artinya kami jadi ngobrol kesana kemari.

Lanjut dari niat “menyepi” tapi malah terjebak “obrolan kesana kemari” itu, saya ketemuan sama Dd dan pacarnya Dv dan melakukan trip pendek dari Kemang, ke Ragunan, ke Kuningan, lalu ketemuan lah sama Mdi dan suaminya, lalu pacar menyusul… dan… ramailah suasana!

Dan sumpah saya gak berhenti ngomong. Lagi-lagi gak tau kenapa.

Topik obrolan hari ini benar-benar beragam… beraneka… berwarna… hehehe… mulai dari wawancara radio dimana saya ujuk-ujuk diminta bicara tentang Krisis Ekonomi Global saat ini (saya rasa mereka memilih nara sumber pake “cap cip cup kembang kuncup”), bicara seputar karir-film-skenario-astrada-citacita-dll di program televisi yang saya sampai lupa nanya kapan tayangnya dan di tivi apa, ngobrolin hal seputar kopi-coklat martini-selebritis-pacar-kebahagiaan-amerika-norwegia-dll di kantor pemilik kafe, minta maaf di HP dalam perjalanan dalam mobil ke teman saya karena gak bisa dateng ke pernikahannya, mengucapkan selamat ulang tahun yang udah telat dua hari lagi-lagi lewat HP, sampai percakapan bersama Dd Dv Mdi Pacar tentang Indonesia era 40-an-internet-penyanyi bernama Che something-demam cikunguya-Tarzan Kota-gua yang rubuh-serangan jantung-sampai sebuah situs virtual tarot yang ternyata jawaban semua ramalannya bisa kita ciptakan sendiri- dan… sebuah lagu yang menerangkan bahwa kepompong bisa merubah ulat menjadi kupu-kupu!

Dan di antara semua itu terselip juga dialog-dialog “maya” antara saya dan teman-teman yang lagi senang-senangnya berkirim pesan melalui sebuah situs pertemanan bernama Plurk yang gak tau kenapa juga hari ini lagi “happening” banget, plus dialog-dialog “maya” lain antara saya dan para karakter saya di skenario yang lagi saya kerjakan.

Intinya… tiba-tiba hari ini saya jadi ekspresif sekali rasanya… (jauh lebih ekspresif daripada kaki saya! hehehe)… dan tau-tau begitu sampai rumah saya baru menyadari bahwa saya capek banget… Hahaha… capek juga ternyata jadi manusia ekspresif… tapi di sisi lain saya sekaligus merasa lumayan lega.

Dan inilah kemudian saya mencoba ekspresif yang terakhir kali sebagai penutupan hari ini dengan bercerita hal yang sebenarnya gak penting-penting amat tadi melalui blog saya ini.

Hmmm… besok mau jadi pendiem lagi ah… mau jadi impresif lagi… walau sebenarnya secara rasa, baik ekspresif dan impresif, sama melelahkan nya…

If you know what I mean… :)





Buwe

15 10 2008

Saya baru selesai menghadiri sebuah premier film. Bertemu banyak teman pastinya. Salah satunya, Buwe, a widow plus a mother of one son. Saya pun akhirnya menunggu film, sampai pemutaran film, sampai selesai film, bersama ibu ini plus beberapa teman lain. Topik obrolan hari ini entah kenapa cenderung tentang “pernikahan” dan jelas banget Buwe termasuk di dalam kelompok “anti pernikahan”. Saya terima saja semua omongan dia (kalau tidak mau menyebutnya nasehat) yang malam tadi lebih banyak ditujukan ke saya yang katanya menurut gosip yang dia dengar saya akan menikah dalam waktu dekat. Saya mencoba bersikap sebijaksana mungkin, menyaring dengan baik apapun yang ia bicarakan, sambil berusaha mengingat masih banyak teman-teman saya yang kebelet nikah. Intinya, mungkin Buwe dengan segala teorinya yang anti pernikahan benar, tapi teman-teman saya yang kebelet nikah itu juga gak salah. 

Sampai kemudian muncullah laki-laki ini. Teman kami juga. Statusnya duda cerai dan punya pacar yang menemaninya malam tadi. Buwe berbisik kepada saya, “Si R sekarang kurus ya?” Saya mengiyakan karena si R ini memang jauh lebih kurus sekarang dibandingkan beberapa tahun lalu waktu saya pertama kali ketemu dia. Lalu Buwe melanjutkan, “Dia kurus sejak bercerai. Dulu kan istrinya yang kaya, sekarang jadinya dia gak punya lagi kekayaan itu… Tapi dia jauh lebih bahagia, karena dia sekarang bebas… itu artinya betapa besar harga yang harus dia bayar demi sebuah kebebasan.” Saya cuma tersenyum, film sebentar lagi mulai… tapi seperti belum puas, Buwe nyerocos lagi, “Inget tuh… betapa mahalnya kebebasan yang elo miliki saat ini.”

Saya terdiam… dan film pun mulai…

Tentu saja bukan saya kalau kemudian tidak memikirkan kata-kata tadi. Banyak kalimat-kalimat lain yang sebelum dan sesudahnya keluar dari mulut Buwe tapi kalimat dia yang itu terngiang-ngiang terus di kuping saya. Terbayang wajah teman-teman saya yang kebelet nikah dan hmmm… wajah saya sendiri. Seberapa kebelet nya saya mau nikah? Seberapa kebeletnya teman-teman saya mau nikah? Saya gak bisa jawab tapi mungkin yang harus saya dan teman-teman “senasib” lakukan adalah untuk tetap mensyukuri apapun keadaan kita, menikmati dan bukan mengutuki waktu, karena kita masih punya sesuatu yang untuk sebagian manusia seperti Buwe adalah “mahal” harganya bernama “kebebasan”.

Hmmm… jangan menanggapi postingan ini sebagai sikap “menentang sebuah pernikahan”… Ini cuma tentang “banyak cara untuk menjadi bahagia either you married or not.





manusia pejalan

10 10 2008

Saya punya seorang teman, entah sebenarnya apa pekerjaannya, yang saya tau hampir setiap kali dia menelepon atau sms, dia pasti lagi di gunung atau di hutan. Saya pernah (hmm… sebenarnya sampai sekarang) menamai dia “manusia pejalan”. 

“Hidupku dimulai ketika bunda melambaikan tangan, melepaskan anaknya meninggalkan rumah,” katanya. Demikianlah ketika si manusia pejalan ini sempat sampai di keramaian, dia bertemu saya, seorang manusia yang tak pernah tau kapan hidup benar-benar dimulai.

Dia yang hidup di rimba beneran, saya yang hidup di rimba metropolitan. Mungkin itu sebabnya kami gak pernah benar-benar cocok atau bisa mengobrol lama-lama karena dia asyik sama filosofinya, saya asyik sama filosofi saya. Dia selalu bilang kalau saya -tanpa disadari- terlalu ngotot ingin menaklukkan dunia, sementara menurut dia “dunia tidak bisa ditaklukkan cuma dalam kurun waktu satu kali kehidupan”. Saya yang kemudian dengan kesal bilang, “Duuuhh… siapa juga sih yang mau menaklukkan dunia?”. Dan dia tetap kekeuh kalau saya begitu.

Dia sempat menelepon saya beberapa bulan lalu dan saya cerita banyak ke dia, mulai dari masalah pekerjaan, pacar, sampai sakit punggung saya. Dia yang kemudian nyuruh saya cepetan nikah biar gak stress (aneh juga nih manusia, hobby keluar masuk hutan tapi tetap percaya sama “lembaga” hahaha…)

Beberapa jam yang lalu dia meng-sms saya: Masih suka sakit punggungnya?

Terus saya jawab: Kadang-kadang.

Terus dia balas: Sekali-kali kamu harus merasakan hutan belantara. Meninggalkan uang, pekerjaan dan gemerlap lampu kota.

Saya tidak membalas lagi.

Dalam perjalanan pulang ke rumah, saya menyetir sendirian sambil memikirkan sms dia. “Meninggalkan uang, pekerjaan, dan gemerlap lampu kota”. Sesuatu yang saya dan dia sama-sama tau sebenarnya kalau saya tidak bisa. Dan sekarang saya baru sadar itulah kenapa dia kekeuh menyebut saya terlalu sibuk menaklukkan dunia. Mungkin itu juga yang membuat dia menyuruh saya cepat-cepat nikah, biar ada sesuatu yang bisa saya pikirkan selain kerja melulu. 

Saya belum pernah masuk hutan… maksud saya masuk hutan buat sekedar masuk hutan… selalu dalam rangka pekerjaan… shooting… buat film… Hutan pun tak meninggalkan kesan apa-apa buat saya. Tapi sekarang, membayangkan berada di antara pohon, melihat matahari terbit di antara daun-daunnya, mendengar cuma suara binatang, melihat sungai yang airnya masih bening, entah kenapa membuat saya ingin mencobanya. Siapa tau teman saya ini benar, sekali-sekali saya harus merasakannya. Siapa tau memang sakit punggung saya karena stress. Siapa tau hutan bisa menyembuhkan.

Tapi… beginilah saya… tiba-tiba ingat masih banyak deadline yang menunggu… membuat saya kembali tersadar penuh… ke hutan? kapan waktunya? emang sempet? aaarrrggghh… saya kembali jadi manusia kota… manusia industri… manusia yang senangnya berlari… berlomba melawan waktu…

Saya lalu membayangkan teman saya yang mungkin lagi duduk-duduk sendiri entah di hutan mana, entah di gunung mana, si manusia pejalan yang memang sangat menikmati cuma berjalan bukan berlari… manusia pejalan yang pernah bilang kalau hidup ini sepi. “Bedanya kalau aku sepi karena berjalan sendirian, kamu sepi karena berjalan di keramaian,” katanya ke saya dulu.

Saya pun akhirnya membalas sms terakhir dia dengan: Kirimin foto hutan aja deh.





kenapa kaki?

5 10 2008

Kakak perempuan saya pernah bertanya, “kenapa sih seneng banget motret kaki sendiri?”

Akhir-akhir ini sejak saya ikutan di sebuah situs fotografi, saya juga baru sadar… iya… banyak banget foto kaki sendiri yang saya buat… ada yang pakai kamera digital… lebih banyak lagi yang pakai hp.

Kenapa kaki?

Padahal kaki saya bukan kaki paling indah sedunia. Bukan juga bagian paling bagus dari tubuh saya. Tapi… buat saya kaki saya adalah bagian tubuh saya yang paling ekspresif. Kalo saya senang, sedih, sebel, marah, semua keliatan dari kaki saya. Jauh lebih ekspresif daripada wajah.

“Wajah paling bisa berpura-pura, kaki tidak bisa.”

Tentu saja… itu cuma saya sendiri yang bisa merasakannya… 

Well, anyway… kalau kita suka memotret (suka tidak perlu sama dengan jago), pasti kita punya favorit objek. Orang, pohon, langit, matahari terbenam, anak-anak, tangan, jari, mata, bibir, dan yang suka motret kaki sendiri juga ada kok selain saya… dan masing-masing pasti punya alasan… no matter how weird the reason is… :)

Dulu… ada satu masa saya seneng banget memotret matahari menjelang terbenam… -”senja”- … buat saya senja itu ajaib. Sementara penghujung hari adalah saat-saat paling melelahkan buat banyak manusia, langit justru tampil cemerlang… matahari merah lengkap dengan bias keemasannya. Saya selalu bahagia melihat senja, buktinya lihat saja kaki saya. Setiap melihat matahari mau tenggelam lengkap dengan bias keemasannya, mereka berubah menjadi kaki-kaki paling bahagia sedunia.

Dan begitulah, ketika saya menyadari hal tersebut, saya mengubah hobby saya memotret senja menjadi memotret kaki sendiri :)