Pernah gak kamu sampai dalam situasi yang buruk banget… yang membuat kamu kayaknya mendingan mati aja… yang membuat kamu berada di titik nol…
Pernah gak kamu ketika dalam situasi itu, terus cuma bisa mengingat satu nama teman kamu untuk sekedar ngedenger suara dia… untuk bilang ke kamu bahwa semua akan baik-baik saja?
Tapi… kemudian temen kamu… satu-satunya nama yang kamu ingat… tidak bisa dihubungi… tidak mengangkat telepon mu… tidak membalas sms kamu…
How frustrated it can be?
Begitulah… Dua hari yang lalu saya akhirnya ketemu juga sama teman saya En, setelah selama ini saya… dengan segala “sok sibuk” nya saya… tidak pernah sempat membalas sms dia… dan begitulah yang terjadi bahwa ternyata beberapa hari sebelumnya dia berada di situasi paling buruk dalam hidupnya… dan saat itu nama yang pertama kali muncul dalam otaknya cuma saya… bukan untuk bantuan materiil… tapi sekedar ingin menangis di kuping saya… mau mendengar suara saya… dan mau mendengar saya bilang bahwa semua akan baik-baik saja… tetapi saat itu… SAYA TIDAK ADA UNTUKNYA…
Waktu saya ketemu dia dua hari yang lalu, dia sudah melewati hari terburuknya… sendirian… dia memang bisa… tapi kenyataan bahwa di hari itu saya tidak ada untuk dia, sampai detik ini masih membuat saya menyesal setengah mampus…
Saya langsung menyadari bahwa selama ini ternyata saya sering banget mengabaikan sms sms dari teman-teman lama saya… karena alasan itu tadi… “lagi sibuk, nanti aja balesnya” dan tau-tau saya lupa begitu saja. Damn! Kata En, “Elo bisa nulis beratus-ratus skenario, tapi buat ngebales sms gue beberapa kata aja kok elo gak sempet?” Oh My God… she’s right…
Padahal ngapain aja sih saya sekarang… asyik nulis ini itu… sok-sokan masukin banyak unsur cinta dan persahabatan dalam skenario saya… padahal saya ternyata gak sepenuhnya paham dengan yang saya tulis itu… saya memilih menghabiskan waktu dengan manusia-manusia yang katanya mengenal saya luar dalam… padahal mereka-mereka adalah manusia yang datang ketika saya sudah menjadi saya yang sekarang… saya ngelupain mereka-mereka yang datang ketika saya belum jadi apa-apa… yang tau susah saya… yang melihat saya merangkak… berjalan… kemudian berlari…
Kata En dia pernah marah-marah sama tukang sayur karena memakai koran bekas yang ada berita tentang saya buat bungkus sayur… dan akhirnya dia merapikan koran yang sudah lecek itu…
God… I’m speechless…
Saya udah gak bisa berkata apa-apa lagi… tapi saya benar-benar minta maaf kepada semua teman-teman saya yang sering saya cuekin sms dan telepon nya… itu semua bukan berarti saya melupakan kalian… saya cuma terlalu asyik sama diri saya sendiri…
Di salah satu skenario saya, ada dialog “Sahabat itu seperti bintang, kadang sepertinya dia tidak ada, padahal dia cuma tertutup awan, sebenarnya dia selalu ada kok buat kita…”
Ternyata saya belum mampu jadi bintang… saya cuma awan yang suka datang dan pergi seenaknya…
So, buat sahabat-sahabat saya… (I need to mention some of their names: Shita, Gita, Wita, Nutan, Erna, Betty, Iik, Ria… dll)… maaf ya… kalau selama ini saya baru bisa jadi awan… tapi sumpah saya adalah awan yang sayang banget sama kalian semua…
Recent Comments