mungkin karena

30 09 2008

… mungkin karena…

Kita seringkali sibuk dan panik sendiri menanyakan ke pasangan kita : KAMU CINTA KAN SAMA SAYA?

Kita lupa bertanya satu hal lain: KAMU BAHAGIA SAMA SAYA?

… mungkin karena…

Kita seringkali cuma mengejar cintanya… tapi melupakan kebahagiaannya.

Kita lupa salah satu alasan kenapa kita mencintai seseorang adalah karena kita bahagia bersamanya.

Ketika cinta hilang berarti karena kita tidak lagi bahagia bersamanya.

… mungkin karena…

Kita lupa ada hal yang juga hakiki seperti cinta yaitu… kebahagiaan.

Cinta begitu absurd dan kebahagiaan tidak.

Pertanyaan “apakah kamu cinta?” memiliki jawaban “iya,” “tidak,” “entah…” “masih bingung…” “belum tau…” “kayaknya gitu sih…” Iya, tidak, iya yang ragu, tidak yang ragu…

Tapi untuk pertanyaan “apakah kamu bahagia?” Kita tau cuma ada dua jawaban “iya” atau “tidak”

Bahagia dan tidak bahagia begitu mudah dirasakan bahkan diekspresikan. Berbeda dengan cinta yang begitu samar dan abu-abu.

… mungkin karena…

Begitulah “masalah” datang, yang lebih dulu dikacaukan adalah kebahagiaan nya, bukan cinta nya, karena si “masalah” tau… mana yang sebenarnya lebih penting…

… mungkin karena…

Saya tidak tahu banyak, selain bahwa saya bisa begitu saja merasa berhenti mencintai seseorang ketika dia ternyata tidak lagi bisa membuat saya tertawa…

(mungkin karena saya masih dianggap kurang mengerti plus asyik sama pikiran saya sendiri tentang itu, makanya saya tidak dilibatkan lebih jauh dalam sebuah obrolan beberapa jam yang lalu antara dua wanita dewasa tentang “hubungan manusia yang sedang bermasalah” )

:)





ikan paus

29 09 2008

seekor ikan paus

mau mengecat tubuhnya warna-warni

merah jingga kuning hijau biru nila ungu

katanya, supaya laut tidak iri lagi

sama langit yang punya pelangi…





si bulet

7 09 2008

Di kamar saya, saya bukan satu-satunya yang bulet… ada satu lagi yang bulet yaitu… tempat tidur saya! Hehehe… Tempat tidur ini sudah lama banget umurnya… warisan dari papa saya. Waktu renovasi rumah terakhir… entah usul siapa… entah siapa pula yang menyetujui… tau-tau tempat tidur itu sudah ngongkrong di kamar saya (eh… dulu kamar kami berdua: saya dan kakak perempuan saya “cece”)…

Nah, anyway, sejalan dengan usianya, si bulet juga mulai “sakit-sakitan”… dan begitulah karena “sakit” nya dia, saya terkena imbas nya… per-per nya yang mulai rusak dan memperngaruhi kelenturan kasur diindikasi menjadi salah satu pemicu sakit punggung saya yang gak sembuh-sembuh…

So setelah puluhan tahun si bulet jadi anggota keluarga saya, akhirnya dengan berat hati saya harus mengganti dia dengan tempat tidur baru. Sedih juga sih berpisah sama si bulet (beneran sedih!) tapi demi kesembuhan punggung, tepat pada hari Kamis 4 September 2008 kemarin, si bulet dipindahkan ke gudang dan di ganti oleh si… kotak… alias yah bentuknya seperti tempat tidur-tempat tidur pada umumnya.

Penuh perjuangan juga buat menukar tempat tidur besar-besar itu. Untung ada kakak-kakak laki-laki saya Mas Tri dan Awe datang ke rumah… dengan tujuan utama mau menjadi bagian dari sejarah si bulet… hahaha…  

So, demikianlah sekarang saya sudah bersama si “yah bentuknya seperti tempat tidur-tempat tidur pada umumnya”. Semoga dia bisa membantu saya mewujudkan cita-cita sembuh dari sakit punggung. Amin.

Sekarang si bulet sudah disimpan di gudang, lengkap dengan fosil-fosil di tubuhnya: keringat kami sekeluarga (semua sudah pernah tidur di situ); ngorok nya papa yang baru bisa tidur kalau saya memainkan jari di punggungnya; tawa saya mendengar ngorok papa; obrolan saya dan kakak-kakak saya; igauan nya si cece; sampai rengekan keponakan-keponakan saya…  dan tentu saja ada sedikit luka, air mata, dan sepi di beberapa sudutnya…

Bye-bye bulet… sekarang saya satu-satunya yang bulet di kamar!





bintang

4 09 2008

Pernah gak kamu sampai dalam situasi yang buruk banget… yang membuat kamu kayaknya mendingan mati aja… yang membuat kamu berada di titik nol…

Pernah gak kamu ketika dalam situasi itu, terus cuma bisa mengingat satu nama teman kamu untuk sekedar ngedenger suara dia… untuk bilang ke kamu bahwa semua akan baik-baik saja?

Tapi… kemudian temen kamu… satu-satunya nama yang kamu ingat… tidak bisa dihubungi… tidak mengangkat telepon mu… tidak membalas sms kamu…

How frustrated it can be?

Begitulah… Dua hari yang lalu saya akhirnya ketemu juga sama teman saya En, setelah selama ini saya… dengan segala “sok sibuk” nya saya… tidak pernah sempat membalas sms dia… dan begitulah yang terjadi bahwa ternyata beberapa hari sebelumnya dia berada di situasi paling buruk dalam hidupnya… dan saat itu nama yang pertama kali muncul dalam otaknya cuma saya… bukan untuk bantuan materiil… tapi sekedar ingin menangis di kuping saya… mau mendengar suara saya… dan mau mendengar saya bilang bahwa semua akan baik-baik saja… tetapi saat itu… SAYA TIDAK ADA UNTUKNYA…

Waktu saya ketemu dia dua hari yang lalu, dia sudah melewati hari terburuknya… sendirian… dia memang bisa… tapi kenyataan bahwa di hari itu saya tidak ada untuk dia, sampai detik ini masih membuat saya menyesal setengah mampus…

Saya langsung menyadari bahwa selama ini ternyata saya sering banget mengabaikan sms sms dari teman-teman lama saya… karena alasan itu tadi… “lagi sibuk, nanti aja balesnya” dan tau-tau saya lupa begitu saja. Damn! Kata En, “Elo bisa nulis beratus-ratus skenario, tapi buat ngebales sms gue beberapa kata aja kok elo gak sempet?” Oh My God… she’s right… 

Padahal ngapain aja sih saya sekarang… asyik nulis ini itu… sok-sokan masukin banyak unsur cinta dan persahabatan dalam skenario saya… padahal saya ternyata gak sepenuhnya paham dengan yang saya tulis itu… saya memilih menghabiskan waktu dengan manusia-manusia yang katanya mengenal saya luar dalam… padahal mereka-mereka adalah manusia yang datang ketika saya sudah menjadi saya yang sekarang… saya ngelupain mereka-mereka yang datang ketika saya belum jadi apa-apa… yang tau susah saya… yang melihat saya merangkak… berjalan… kemudian berlari…

Kata En dia pernah marah-marah sama tukang sayur karena memakai koran bekas yang ada berita tentang saya buat bungkus sayur… dan akhirnya dia merapikan koran yang sudah lecek itu…

God… I’m speechless…

Saya udah gak bisa berkata apa-apa lagi… tapi saya benar-benar minta maaf kepada semua teman-teman saya yang sering saya cuekin sms dan telepon nya… itu semua bukan berarti saya melupakan kalian… saya cuma terlalu asyik sama diri saya sendiri… 

Di salah satu skenario saya, ada dialog “Sahabat itu seperti bintang, kadang sepertinya dia tidak ada, padahal dia cuma tertutup awan, sebenarnya dia selalu ada kok buat kita…”

Ternyata saya belum mampu jadi bintang… saya cuma awan yang suka datang dan pergi seenaknya…

So, buat sahabat-sahabat saya… (I need to mention some of their names: Shita, Gita, Wita, Nutan, Erna, Betty, Iik, Ria… dll)… maaf ya… kalau selama ini saya baru bisa jadi awan… tapi sumpah saya adalah awan yang sayang banget sama kalian semua…