Akhir-akhir ini sepertinya cukup banyak teman-teman saya yang lagi bahagia karena love life mereka (well… what else…) sukses berat.
Mulai dari yang lagi pedekate dan dapet sinyal yang bagus, baru “jadian”, sampai yang sudah dilamar atau melamar (dan diterima pastinya).
Pokoknya muka mereka berseri-seri terus, gak bisa berhenti tersenyum, sambil menceritakan kelebihan pasangan masing-masing. Bahkan ada yang ketika saya tanya, “Hebat banget kayaknya gebetan elo. Pinter, baik, cantik, mapan. Boleh tau gak kekurangan dia apa?” dan temen saya sambil senyum bilang, “Kayaknya gak ada sih. She’s perfect.” Sebuah jawaban yang bakal membuat pencipta kutipan “tidak ada yang sempurna di dunia ini” merasa bersalah dan kabur ke Timbuktu.
Saya mencoba ikut bahagia buat mereka. Tapi saya adalah saya yang saya banget
yang selalu mencoba melihat segala sesuatu dari tengah. Dari sudut pandang yang cenderung abu-abu…
Hampir setahun yang lalu sebenarnya saya juga merasakan hal yang sama… yang bikin saya gak berhenti tersenyum… yang bikin saya maunya ceritaaaaa terus ke seluruh dunia tentang suksesnya love life saya… sampai saya cerita ke salah satu teman dekat saya yang saya panggil dengan sebutan Sinyo (plus dengan gelar “ku” di belakang kata Sinyo). Dia ikut senang melihat saya senang (beneran… saya tau banget dia senang) tapi kemudian dia bilang satu kalimat, “Awas ya… jangan sampai beberapa bulan lagi lo dateng ke gue nangis-nangis dan minta dianter ke Waving Gallery…”
(Waving Gallery ini adalah tempat di Bandara Soekarno Hatta terminal 1 yang di bahasa Indonesia kan menjadi Anjungan Melambai karena memang dibuat untuk para pengantar yang mau melambaikan tangan mereka ke relasi yang mau berangkat naik pesawat)
Waving Gallery memang jadi tempat pelarian saya kalau lagi sedih dan saya kesana selalu sama Sinyo. Biasanya kami datang tengah malam, lalu duduk berjam-jam melihat pesawat-pesawat yang lagi langsir, tanpa ngobrol apa-apa… cuma duduk diam merayakan kesedihan…
Sampai detik ini, sejak percakapan saya di atas dengan Sinyo, saya belum pernah minta ditemenin ke Waving Galery lagi. Tapi kalau diingat-ingat bagaimana dulu saya pernah beberapa kali datang kesitu dalam keadaan “titik nadir” padahal beberapa bulan sebelumnya saya merasa sebagai manusia paling bahagia sedunia, membuat saya menjadi ekstra hati-hati.
Begitulah kemudian saya akhirnya meredam kebahagiaan saya untuk tidak menjadi terlalu berlebihan. Karena kita gak pernah tau apa yang akan terjadi nanti… Saya berteriak untuk kebahagiaan detik ini tapi untuk bilang bahwa saya akan bahagia selamanya… rasanya tak perlu dengan teriakan… cukup dengan berbisik… itupun biar hati saya dan Tuhan saja yang mendengarnya.
It’s our rights to be happy but it’s our obligations to always prepare for the worst.
Sama seperti kutipan dari film Tentang Dia “Kebahagiaan tidak pernah datang sendirian. Dia selalu ditemani oleh kesedihan. Sementara seringkali kita tidak punya cukup makanan untuk menjamu mereka bersamaan.”
Anyway, tulisan ini gak bermaksud untuk melarang kalian berbahagia… ini cuma sekedar pikiran saya… saya yang adalah saya yang saya banget
… yang kebetulan juga menulis Tentang Dia… yang kebetulan juga punya blog ini buat menulis apa aja…
Now pals… you can close this blog and say, “Ngapain juga ngedengerin manusia yang sering mencari pencerahan di Waving Galery…”
Okay?
Recent Comments