Sapi yang Klinci

29 07 2008

Teman lama saya… lama banget… sudah sekitar dua tahunan ini gak ketemu… sempat menghilang… sekarang tau-tau muncul lagi dan kembali ke dunia per”shooting”an… tadi malam kita telepon-teleponan… dia lagi boring di tengah shooting (jam setengah tiga pagi, shooting layar lebar, hari pertama… “please guys, you must be nuts!”)… dan saya lagi berjuang melawan vertigo kecil yang lagi kambuh…

Setelah hahahihi… gosip sana… gosip sini… tiba-tiba muncul percakapan ini menjelang akhir…

dia   : Eh tau gak… gue punya sapi…

saya : Sapi? Sapi?

dia   : Iyaaa… sapi… satu ekor… gara-gara waktu di Bandung dulu, ada yang pinjem duit, gak bisa ganti, eh digantinya pake anak sapi…

saya : Serius?? Terus sekarang sapinya dimana?

dia   : Ada di peternakan di Bandung.

saya : Wahhh… lucu banget… udah punya nama?

dia   : Belum. Elo yang kasih nama dong.

saya : Hmmm… iya kasih nama.

dia   : Iyaaaaaa. Kasih nama apa? (mulai kesal)

saya : Gue tau. Namanya Klinci.

dia   : Kelinci?? Iiihhh… Sapi kok kelinci?

saya : Lucu tauuuuuu…

dia   : Kelinci?

saya : Klinci. Gak pake E. Bukan Kelinci tapi Klinci.

dia   : Hihihihi (ini ketawa khas dia banget)… Lucu… Sapi tapi Klinci…

saya : Hehehe… jadi kapan mau jengukin Klinci?

dia   : Nanti… abis shooting ini kelar… mudah-mudahan udah gede… mau cepet-cepet nyobain minum susu Klinci…

saya : Hahahaha… fotoin ya buat gue…

dia   : Pastinya. Ntar gue kirimin ke elo. Ya udah. Tidur gih.

saya : Okay… selamat melanjutkan shooting…

Saya pun melanjutkan usaha saya tidur… sambil cekikikan sendiri… cukup mengobati vertigo ternyata… membayangkan ada sapi yang namanya Klinci…

Seneng banget…

Have you ever been so flattered by something that not even big but pretty unusual?





friendships

27 07 2008

Kemarin malam… dalam perjalanan dari kantor teman saya Dd, menuju ke sebuah cafe di bilangan Kemang…

perjalanan untuk menuju cafe yang paling cuma 5 menit…

dan di tengah jalan… saya yang menyetir… Dd duduk di samping saya… tau-tau Dd teriak, “Gerimis!”. Saya memfokuskan penglihatan di kaca depan. Beneran gerimis. Tipis. Kecil. Tapi tetap gerimis. 

Kami berdua terus kayak orang gila teriak kegirangan.

Bayangkan… karena kesibukan kami berdua… entah udah berapa lama kami gak ketemu dan naik mobil berdua aja… suatu hal yang dulu sangat sering kami lakukan… dan kami berdua suka banget nyetir dalam gerimis…

Dan begitulah… kemarin malam… walau cuma dalam hitungan dua menit… langit menghadiahkan kami gerimis. Tipis. Kecil. Tapi tetap gerimis.

Sampai di tujuan, gerimis berhenti. Dd meeting di meja lain. Saya meeting di meja lain juga. Seperti lupa sama gerimis tadi. 

Tapi bagaimanapun saya menyimpan cerita itu di kepala… buat bahan senyum-senyum sendiri menjelang tidur… lucu… 

Saya cerita ke manajer saya… seperti biasa, komentarnya, “Dasar. Kalian berdua emang sahabat yang aneh.” Kalau dipikir-pikir iya juga… Dd cewek, saya juga cewek, tapi kejadian tadi bisa dibilang romantis banget kan? Hahaha… Tapi who cares anyway… keindahan gak melulu harus terjadi ketika kita lagi sama pacar atau kekasih atau suami… sama sahabat juga bisa… 

And by the way… we all know… in a lot of things, best friends understand us better than what our lovers do… right?

So, let’s celebrate the friendships!

I just did and I got drizzle as a bonus!





runny babbit

22 07 2008

saya punya buku baru… dan menurut saya… biarpun katanya sih ini buku anak-anak… ini adalah buku paling jenius yang pernah saya baca… judulnya RUNNY BABBIT, pengarangnya Shel Silverstein…

ini buku yang bisa membuat saya ketawa sampai terguling-guling dan nangis…

tokohnya si Runny hidup di dunia dimana kata-kata hurufnya saling bertukar tempat… bingung? ini contohnya:

FUNNY BAMMILY artinya Bunny Fammily

KUGS AND HISSES artinya Hugs and Kisses

HURPLE PAT artinya Purple Hat

dan masih banyak lagi lah… hampir semua kalimat di dalam bukunya seperti itu.

Bahkan nama temen-temennya juga: ada Toe Jurtle which is kura-kura… Dungry Hog which is anjing… Snerry Jake which is a snake… dan lain-lain…

sumpah nih buku lucu… dan penting…

membaca buku ini membuat saya lupa sama masalah… lupa sama sedih… lupa sama marah… lupa sama bingung… lupa sama segala sesuatu yang akhir-akhir ini membuat saya sakit perut dan sakit kepala…

This book makes me happy…

or in Runny Babbit language: 

Bhis took hakes me mappy…





we

20 07 2008

we’re too busy thinking how to make each other happy.

we forget to think how to make our own selves happy.





penting

17 07 2008

Saya tiba-tiba ingat sekitar dua tahun yang lalu, di sebuah sore…

Saya mendapat SMS:

Lagi dimana? Liat keluar deh. Senjanya keren banget dan lama.

Saya jawab:

Iya. Ini lagi di luar. Katanya ini senja terpanjang di Jakarta. Lo dimana?

Dia jawab:

Lagi makan soto… Soto Senja…

Saya jawab:

Hahaha… pasti bakso nya terbuat dari matahari…

Dia jawab:

Ini soto tauuuuuu…. Gak ada baksonya…

Kenapa ya tiba-tiba saya inget momen itu? Hmmm… mungkin… karena saya kangen di sms hal-hal kecil kayak gitu. Eh… bukan kecil, tapi lebih tepat kalo disebut sms yang menggunakan “bahasa” yang “segmented”… hehehe… keren kan istilahnya…

Sama seperti rangkaian sms saya dan temen saya yang lain:

+Tiba-tiba ada kampak.

-Kok bisa?

+Gitu deh… 

-Kampaknya di leher?

+Pastinya.

Atau… sms kayak gini:

+Dolok ganti nama jadi Hengki, soalnya dia kan putih kayak orang Menado.

-Wah… selamat ya… ntar gue bilang ke Goldie…

+Btw… udah lama nih Hengki gak ketemu Goldie…

Kalau dibaca kesannya itu membicarakan tentang nama orang… padahal kita lagi ngomongin tentang mobil masing-masing.

Hehehe… sms-sms yang cuma saya dan si pengirim yang mengerti maksudnya. Dan seringkali sms-sms kayak gitu membuat saya merasa memiliki manusia-manusia yang mengenal dan mengerti diri saya.

Gak penting… tapi penting buat seorang saya…





just a quote

15 07 2008

Living your dream is not as simple as dreaming. It is the word “living” we’re talking about. And as far as my concern, living is never that simple.





beautiful ending

8 07 2008

Setelah kurang lebih 50 hari di Belitung… saya kembali ke Jakarta!

Hmm… sudah 3 hari di Jakarta… dan rasanya saya masih mencium udara Belitung setiap kali bangun pagi… Ini namanya bukan jetlag… tapi Belitung lag… hahaha…

Anyway… berakhirlah sudah shooting saya yang terakhir sebagai astrada… dengan cara yang cukup mengharukan di lokasi terakhir di atas jembatan di hari kamis 3 juli 2008, malam, saya mengumumkan, “Teman-teman… dengan ini secara resmi saya menyatakan bahwa ini adalah film terakhir saya sebagai astrada dan untuk itu ijinkan saya buat terakhir kali bilang, terima kasih untuk hari ini teman-temaaaannn…”

Shooting… Belitung… Pemain anak-anak… Kru yang menurut sang sutradara adalah kru terbaik yang pernah ia miliki… lengkaplah sudah perjalanan saya…

Ini akan menjadi shooting yang paling berkesan buat saya… bukan sekedar karena filmnya dan tingkat kesulitan produksi yang cukup tinggi… tapi karena banyak hal-hal kecil yang tiba-tiba mengisi ruang-ruang kosong di otak saya… ruang-ruang imajinasi yang selama ini susah terisi…

Gerimis yang hangat…

Malaikat-malaikat kecil…

Awan yang berbentuk lumba-lumba…

Langit yang biru dan begitu dekat dengan kepala…

Kopi khusus setiap pagi yang ketika dihirup membuat kacamata berembun…

Padang ilalang di seberang sekolah…

“Perahu” yang dibuat dari daun pinang dan berlayar di pasir…

Sebuah pintu menuju dunia surreal…

Ujung dunia yang terang benderang cuma karena sinar bulan…

Seekor kepiting bernama Udin…

Bunga yang hobinya jatuh di dekat jari kaki…

Perahu biru yang dikasih nama “langit”…

Pulau pasir yang kami namai “pulau cinta”…

Pantai yang dipenuhi jutaan bintang di langit dan di lautnya…

Hingga… seekor kelinci yang tampak sedang bermain-main di bulan….

Saya begitu bahagia…

Saya mengakhirinya dengan indah… 

(… dan kembali terdengar lagu Naif yang kami nyanyikan setiap pagi di mobil menuju lokasi yang kemudian jadi lagu wajib shooting ini: “ku serasa di surgaaaaa… dan hati berbunga-bunga… dan hatiku berbunga-bunga…” )