baru

23 05 2008

Tadi pagi saat penerbangan ke Belitung buat shooting film… salah satu kru mendekati saya sebelum naik pesawat, “Mbak… ini pertama kali lho saya naik pesawat…”
Terus saya jadi merhatiin dia. Lucu banget. Ketika pramugari memperagakan cara-cara penyelamatan darurat, dia bener-bener konsen memperhatikan.
Cara pemakaian sabuk pengaman, dia ikut membuka dan menutup kembali sabuk pengamannya.
Posisi baju pelampung, dia meraba bawah kursinya.
Masker oksigen, dia melihat ke langit-langit pesawat di atas kepalanya.
Pintu darurat, dia menjulurkan kepalanya mau tau dimana letak pintu darurat.
Sementara… puluhan penumpang lain gak ada yang memperhatikan. Asyik ngobrol, ngelamun ngeliat keluar, bahkan ada yang sudah jatuh tertidur. Pastinya puluhan penumpang lain sudah sering naik pesawat dan hafal luar kepala peragaan tersebut.

Hafal… beda tipis sama bosen… beda tipis sama terlalu pede…

Karena memang cara kita berlaku terhadap hal baru dan hal lama bisa jadi jauh berbeda.

Saya… dulu pertama kali bisa nyetir, selalu memastikan semua ter-set dengan benar sebelum mulai berjalan. Sekarang sih cuek aja. Toh selama ini semua baik-baik aja.
Saya… dulu pertama kali punya laptop, selalu rajin membersihkan, membawanya dengan hati-hati, memastikan prosedur menyalakan dan mematikan dengan benar. Sekarang sih ampun deh… kasian si “pobi” laptop saya ini.
Saya… awal-awal menulis skenario, selalu rajin men-cek ulang, berkali-kali sebelum dikirim… sekarang… boro-boro… setelah menuliskan kata “the end”, langsung kirim tanpa dicek ulang…

Sinting…

Kenapa ya saya begitu?

But don’t we all?

Punya barang baru disayang-sayang, lama-lama diterlantarkan.
Punya pacar baru cintanya gila-gilaan, lama-lama biasa aja.
Pernikahan yang dirayakan besar-besaran, kemudian dibilang membosankan.
Hidup yang dijalani dengan hati-hati, kemudian dihadapi tanpa pakai hati.

Mungkin… mungkin… seperti kita yang sudah sering naik pesawat…
Peragaan nya gitu-gitu aja… gak ada perkembangan…
Kita merasa sudah hafal luar kepala…
Dan ini yang paling gawat… selama ini toh gak pernah terjadi apa-apa…

Kita terlalu pe-de jadi manusia.

Padahal… kita gak akan pernah tau apa yang akan terjadi.
Padahal… sekecil apapun suatu hal, kita tidak punya hak untuk menyepelekan.
Padahal… keinginan untuk memperhatikan… bukan dosa…
Padahal… rasa sayang, rasa cinta butuh dipelihara…
Padahal… hidup tak pernah sama…

Hidup itu baru setiap hari…

Gampang banget ya saya ngomong… padahal sudah bertahun-tahun saya juga milih membaca majalah saja daripada merhatiin pramugari memperagakan gimana caranya mengaitkan, mengencangkan, dan melepaskan sabuk pengaman…

“pelampung ada di bawah kursi anda dan hanya digunakan pada saat pendaratan darurat di air…”





selamat jalan

18 05 2008

Kami mengingatnya sebagai seorang aktor yang menjunjung tinggi sikap professional.

Kami mengingatnya sebagai seorang aktor yang mengerti apa yang harus dia lakukan demi karakter yang ia perankan.

Kami mengingatnya sebagai seorang manusia yang suka bercerita, lucu, blak-blakan.

Saya pribadi mencoba mengingat beliau kembali ketika terakhir kali melakukan trip bersama ke Kuala Lumpur dalam rangka promo film.

Yang terekam ternyata cuma sebuah momen singkat ketika kami selesai melakukan wawancara dan harus pindah ruangan… “Ayo pindah”, kata panitia. Semua berdiri dan berjalan cepat. Beliau juga berdiri cepat, berjalan setengah langkah lalu berhenti, seperti teringat sesuatu, lalu menoleh ke belakang, ke arah sang istri yang berdiri lebih perlahan. Semua berjalan melewati dirinya. Beliau menunggu sampai istrinya mendekat lalu berjalan bersama. Seakan bilang, “Tak apa ketinggalan sama yang lain, yang penting selalu berdua.”

Sesuatu yang saya yakin sudah berpuluh-puluh tahun mereka lakukan.

Kami mengingatnya sebagai seorang aktor yang selalu bersemangat.

Saya mengingatnya sebagai bukti nyata bahwa cinta sejati itu memang ada.

Selamat jalan om Sophan…





foto

15 05 2008

Saya lagi senang liat foto-foto teman-teman facebook saya. Album foto mereka. Gila juga ya semangat mereka mendownload foto-foto itu ke facebook. Ada yang sampe 100 foto lebih (saya nyaris segitu juga sih… hehe)… dan lalu… saya menyadari sesuatu… atau lebih tepatnya berpikir tentang satu hal… sepertinya fasilitas bisa mendownload foto-foto tersebut sudah jadi ajang pamer “kebahagiaan”. Seakan-akan lewat foto-foto itu mereka (wah… saya juga bisa termasuk di dalamnya) mau bilang ke semua orang, “Look at my life. It’s fun. It’s happy. It’s oke.” 

Perhatikan deh foto-foto itu. Nyaris semua tersenyum. Tertawa. Atau mentok nyengir karena mabuk di tengah sebuah pesta. Bareng teman-teman, pacar, suami, istri, anak, kakak, adik, dsb dst… Di rumah, di club, di kantor, di Bali, di Singapore, di Paris, di New York… semua tempat… hebat bangetlah pokoknya hidup mereka…

Ini baru namanya pameran foto yang sebenar-benarnya. Hehehehe…

Tapi ada yang aneh… Coba lihat status mereka di facebook. Status facebook disini (penjelasan bagi yang gak suka facebook an nih) adalah tentang apa yang sedang kita rasakan, sedang kita lakukan, dan bisa diganti setiap saat. Nah… coba lihat status mereka… lebih banyak yang berbanding terbalik dengan apa yang mereka tampilkan lewat foto.

Coba kita lihat contohnya:

Si Budi… “lagi ingin menyendiri”

Si Ani… “feeling so sad”

Si Bambang… “mau menghilang dari dunia ini”

Si Joko… “life is so sucks!”

Si Tuti… “hate the universe”

bahkan…

Si Siska… “mau bunuh diri!”

Oh My God… apa yang terjadi sih sebenarnya? Saya jadi bertanya-tanya… kenapa mereka begitu membenci hidup mereka yang kalau di foto kelihatan menyenangkan begitu? 

Kenapa mereka mau menghilang dan meninggalkan hidup mereka yang -lagi-lagi di foto- kelihatan penuh dengan kesenangan… kebahagiaan… teman… keluarga… lengkap… sempurna… itu?

Ajaib? Aneh? Well… nggak juga sih… setelah dipikir-pikir… saya juga gitu… kalau tau mau difoto langsung pasang senyum… gak peduli gimana perasaan saya sebenarnya… mungkin karena tau fungsi foto adalah untuk mengabadikan… dan kita semua cuma mau mengabadikan kebahagiaan bukan?

Apalagi kalau kita tau foto kita bakal dilihat banyak orang… langsung kasih wajah yang paling manis… paling bahagia sedunia…

Begitulah, makin kesini…  kalo setiap kali ada ajang foto-foto, makin banyak celetukan, “nanti masukin ke facebook yaaaaa…”

hehehe…

Gak bermaksud menyindir siapa-siapa kok… karena saya juga bagian dari hidup yang aneh ini…