naga atau cacing?

29 04 2008

gara-gara baru dicurhatin temen saya tentang masalah kerjaan… masalah memilih antara bertahan di kerjaan lama yang “kantor” nya eksklusif tapi dengan kedudukan asisten… atau menerima tawaran pindah kerja ke “kantor” yang tidak begitu eksklusif tapi kedudukannya jadi bos…

hmmm…

jadi inget teori temen lama saya tentang jadi kepala cacing atau buntut naga…

begini ceritanya… dulu waktu saya baru mulai bekerja… ada satu titik dimana saya dihadapkan pada dua pilihan… jadi assistant film director atau jadi director tv program… dan bertanyalah saya ke teman saya… dia lalu mengibaratkan film sebagai naga dan tv program sebagai cacing… kalau saya memilih jadi asisten sutradara di film artinya saya milih jadi naga tapi cuma jadi buntutnya… kalau saya memilih jadi director tv program artinya saya milih jadi cacing tapi jadi kepalanya… terserah saya mau yang mana…

waktu itu… sumpah… saya mikir cukup lama dan bingung… secara dua-duanya baru saya tekuni dan dua-duanya punya kelebihan dan kekurangan… dan kemudian akhirnya saya memilih jadi… buntut naga… hahaha….

kenapa? karena pada akhirnya bukan masalah naga atau cacing… bukan masalah gede atau besar… tapi masalah dimana saya lebih enjoy bekerja… dimana saya lebih bahagia ketika melakukannya… karena ketika kita bahagia dan enjoy melakukan sesuatu… dimanapun kita berada… maka hasilnya gak akan sia-sia… “do what you love. love what you do”…

mau jadi kepala cacing, ya jadilah kepala cacing yang bagus dengan mencintai pilihan itu.

mau jadi buntut naga, ya gak pa-pa juga, asal ya… cinta sama pilihan itu dan do the best…

begitulah kira-kira… udah bertahun-tahun berlalu… temen lama saya itu udah jadi kepala cacing… katanya sih cukup berhasil… tapi yang namanya cacing ya… banyak banget kan… jadi agak susah juga menemukan nama dia di antara cacing-cacing lain yang hampir mirip itu…

dan saya… ya masih kok jadi buntut naga… untungnya naga masih agak lebih sedikit jumlahnya daripada cacing… jadi lebih gampang nyari nama saya di antara naga-naga lain… hahahaha…. narsis!

anyway… sekali lagi apapun pilihan kita, just try to be the best… 

maaf nih… tapi saya pede kok buat bilang kalo sebagai buntut naga, saya gak jelek-jelek amat… dan bahkan hmmm… katanya sih salah satu buntut naga terbaik… hahahaha… narsis lagi deh…





60 tahun

28 04 2008

hari ini mendengar kalimat yang bagus dari salah satu pemain film yang sudah cukup lanjut usianya (60 tahunan):

“manusia-manusia di usia saya, justru ingin makin aktif, makin ingin berlari, mengejar apapun yang bisa dikejar, mengejar apa saja yang pernah terlewatkan di hari kemarin, karena kita sadar… hidup kita gak lama lagi… we will be die very soon… “





earth

14 04 2008

“kalau cuma di bumi saja ada kehidupan, betapa banyak tempat yang tersia-siakan di jagad raya ini” 

(kutipan dari film “Contact”)

 

 

 

 

 





belitung

11 04 2008

Dari tanggal 5 sampai 8 april kemarin saya pergi ke belitung dalam rangka hunting lokasi sebuah film yang akan diproduksi dalam waktu dekat.

Selama empat hari tiga malam, saya dan teman-teman menelusuri kota-kota di belitung: gantong, manggar, tanjung pandan, tanjung kelayang dan tanjung tinggi. Selama itu tiap hari kami makan ikan, gangan, cumi goreng tepung yang dimanapun restorannya rasanya sama enaknya, minum kopi o setiap sore… selama itu pula saya bekerja keras menyiasati sakit punggung yang sering kambuh ditambah di hari kedua ketiga tangan kanan saya susah digerakkan akibat rasa nyeri luar biasa yang entah kenapa.

Selama empat hari itu pula, saya merasakan kembali sebuah perjuangan dari sekelompok manusia untuk bisa menghasilkan sebuah film yang “baik” di tengah serbuan film-film serba instan yang menyerbu pasaran. Sudah setahun lebih saya tidak melibatkan diri saya sebagai asisten sutradara lagi karena berbagai pertimbangan kondisi fisik. Ketika akhirnya saya terlibat disini dan menjalani proses hunting kemarin, saya sadar, betapa saya masih mencintai pekerjaan ini.

Saya memang beruntung masih bisa merasakan bekerja sama dengan nama-nama yang menurut saya besar… produser, sutradara, dop, artistik… semuanya… merasakan semangat mereka… keseriusan mereka… bagi saya mereka bisa disamakan dengan karakter-karakter yang ada di dalam film ini, yang bercerita tentang sekelompok anak yang berjuang untuk tetap bersekolah di tengah berbagai masalah ekonomi dan sosial di era awal 80-an yang ada di tanah belitung.

Salute buat mereka semua…

Dan ketika saya menyatakan bahwa ini akan menjadi film terakhir saya mengkaryakan diri sebagai asisten sutradara… semoga saya memilih film yang tepat…





superman

4 04 2008

picture-1.png  

Di sudut sebuah mall, satu keluarga… bapaknya pake kemeja yang warna ijo nya udah pudar, dimasukin ke celana kain biru tuanya yang sedikit menggantung dimata kaki, pake sendal “opa-opa” dengan jari-jari kakinya mencuat gak beraturan keluar dari sendalnya… berdiri memegang tas ransel kecil bergambar dora sang petualang… Anaknya, perempuan, umurnya sekitar 5 tahun, kulitnya hitam, berdiri setengah telanjang, lagi digantiin baju sama ibunya… Si ibu yang wajahnya sedikit kendor, tanpa senyum, tangannya sibuk gantiin baju anaknya (mungkin baju sebelumnya terlalu basah oleh keringat) sambil sesekali benerin tasnya sendiri, louis vitton yang jelas-jelas palsu karena kulitnya udah mengelupas sana-sini dan lambangnya sedikit miring karena lemnya udah copot sebagian… 

Lalu melintaslah satu keluarga lain… tanpa bapak… cuma ibu dengan dua anak lelakinya yang kembar… kulit mereka putih… bibir mereka merah dan tersenyum… si kembar umurnya 5 tahunan juga, sedikit gendut, pipinya tembem, keduanya sama-sama pake kaos superman… hurus S di dada… plus jubah yang melambai-lambai yang jadi satu sama kaosnya… sementara si ibu cuma pakai sendal dan celana pendek… tapi entah kenapa keliatan cantik luar biasa…

Ibu dari keluarga pertama sudah selesai mengganti baju anak perempuannya… anak perempuan yang kemudian ditarik sama si bapak buat disisirin rambutnya… si ibu bengong ngeliatin keluarga superman… “Kemana bapaknya yah? Jangan-jangan bapaknya emang superman beneran makanya gak ikut ke mall karena sibuk ngelawan penjahat-penjahat demi menyelamatkan dunia.”

Si bapak sudah selesai menyisir rambut anaknya… rambut yang tipis dan kering itu kini rapi dan licin oleh sisa-sisa keringat sendiri di kepala… si ibu masih bengong, sampai gak ngeh suaminya memegang pipi anaknya dan bilang, “kamu anak paling cantik sedunia..”

“bu! ayo!”

Si ibu tersadar… lalu tergopoh-gopoh menyusul suaminya yang udah jalan duluan menggandeng tangan anak perempuannya. Sang ibu menatap punggung suaminya sambil membayangkan superman yang lagi terbang di angkasa… “Apa rasanya punya suami superman… Seperti apa superman kalau sedang bercinta?”

Si ibu sudah bergabung lagi sama suami dan anak perempuannya.

“Bu… mau makan apa? Mie bakso? Ayam goreng?… Sekali-sekali kita makan enak… ini kan hari ulang tahun perkawinan kita…” bisik suaminya.

Lagi-lagi si ibu gak mendengar… asyik ngeliatin keluarga superman yang lewat lagi sambil ketawa-ketiwi…

cibubur junction, 13 januari 2007