sebuah hasil chatting saya dengan salah satu sahabat saya, well yang bisa diibaratkan saya dan dia sama-sama ada di sebuah puncak gunung, gunung yang berbeda, tapi kami merasakan hal yang sama : (beberapa bagian saya edit untuk kepentingan privasi)
dia:
Mau curhat nih… gue kan baru ya berada disini, tapi kok ya gue udah ngerasa gak betah, disini orang-orangnya kok muna semua ya… sok-sokan berbuat sesuatu demi alasan idealisme, tapi ujung-ujungnya demi uang dan posisi… Unsur “politik”nya gede banget. Beda lah sama yang benar-benar tulus memperjuangkan idealisme…
saya:
Itulah yang namanya “politik”. Menghalalkan segala cara. Sebelum sampe ke situ lo harusnya siap sama yang begituan.
dia:
Iya gue tau. Tulus demi idealisme lebih enak.
saya:
Tapi masa seumur hidup lo mau hidup dengan idealisme lo itu?
dia:
Gue percaya sebenernya bisa.
saya:
Tapi lo udah disitu. Lo mau mundur?
dia:
Ya gak juga. Gue udah keburu membawa sesuatu kesini. Sesuatu yang gue perjuangkan udah lama. Sesuatu yang gue buat gak cuma sendiri tapi bareng teman-teman yang lain. Gue gak mungkin mundur dan ngecewain temen-temen gue.
saya:
Jadi?
dia:
Gue perjuangkan sesuatu ini dulu sampai berhasil. Sedikit lagi kalau berhasil, buat sementara waktu gue berdiri sama tinggi sama mereka yang gue bilang muna tadi. Baru perlahan gue mundur dan kembali menjadi diri gue sendiri.
saya:
Sekarang semua dibuat demi nama besar, demi uang, dan lain-lainnya. Gak bisa ya sesederhana sesuatu dibuat karena memang dia harus dibuat. Kayak gue. Sebenernya udah lama ini gue rasain. Gue menulis buat dapet nama, buat uang… seringkali gue kangen kayak gue waktu sma, menulis karena gue memang harus menulis buat diri gue setiap hari, kalau gak gue bisa gila.
dia:
Gue masih percaya itu, bahwa sesuatu ada karena memang harus ada. Segala sesuatu dibuat tujuannya sederhana: untuk merayakan hidup.
saya:
Anyway, pada akhirnya yang harus kita lakukan adalah kompromi. Sama orang lain. Sama diri kita sendiri.
dia:
Pada akhirnya gue akan kompromi…. tapi tetap dengan tujuan merayakan hidup tadi.
saya:
Semoga. Ya udah deh… ngantuk gak?
dia:
Lumayan. Mau udahan ya?
saya:
Iya. Nite.
dia:
Nite (lalu dia menuliskan nama saya dengan deretan dua huruf terakhir panjaaaaang)…
Recent Comments