Sebuah pertanyaan mampir ke kuping saya, “elo nulis film judulnya Love, terus beberapa film sebelumnya dan berikutnya juga banyak unsur “love”, pasti lo paham banget tentang kata (love alias cinta) itu ya?”
saya ketawa… bingung mau jawab apa…
So, this is the truth:
seperti ada kalimat “manusia menghargai sehat setelah merasakan sakit” atau “kita menghargai kata bahagia setelah merasakan ketidakbahagiaan”… begitupun saya dengan “cinta”.
Love (dan film-film lain yang ada unsur cinta), saya tulis karena saya menghargai “rasa” itu… dan semua respek saya terhadap “rasa” itu muncul setelah melalui entah berapa “sakit”… entah berapa “ketidakbahagiaan”… entah berapa rasa “tidak dicintai”…
Jadi kalaupun saya dianggap sukses (well… lumayan sukses deh) mengangkat tema cinta… itu bukan karena hidup saya melulu diisi oleh cinta… bukan… tapi lebih karena saya tau rasanya “tidak dicintai” dan betapa beruntungnya saya punya tempat menyalurkan khayalan dan mimpi saya tentang rasa dicintai dan menemukan cinta sejati, yaitu melalui skenario yang saya tulis.
Jadi kalau saya dikasih kesempatan mengucapkan terima kasih, selain buat keluarga, sahabat, dan pacar yang membuat saya merasa dicintai, saya juga akan berterimakasih buat mereka yang pernah membuat saya merasa tidak dicintai…. karena semua membuat perjalanan hidup saya menjadi seimbang antara senang, sedih, gelap, terang, penuh, kosong, ramai, sepi, menang dan kalah. Semua hal yang saya butuhkan untuk melengkapi pemahaman saya tentang satu kata… CINTA…
LOVE
14 02 2008Comments : Leave a Comment »
Categories : love

Recent Comments