
luka.
menyakitkan,
bukan mematikan
kehilangan.
air mata,
bukan putus asa
masa lalu.
kekuatan,
bukan kelemahan
hidup.
tantangan,
bukan kutukan.

luka.
menyakitkan,
bukan mematikan
kehilangan.
air mata,
bukan putus asa
masa lalu.
kekuatan,
bukan kelemahan
hidup.
tantangan,
bukan kutukan.
sebuah hasil chatting saya dengan salah satu sahabat saya, well yang bisa diibaratkan saya dan dia sama-sama ada di sebuah puncak gunung, gunung yang berbeda, tapi kami merasakan hal yang sama : (beberapa bagian saya edit untuk kepentingan privasi)
dia:
Mau curhat nih… gue kan baru ya berada disini, tapi kok ya gue udah ngerasa gak betah, disini orang-orangnya kok muna semua ya… sok-sokan berbuat sesuatu demi alasan idealisme, tapi ujung-ujungnya demi uang dan posisi… Unsur “politik”nya gede banget. Beda lah sama yang benar-benar tulus memperjuangkan idealisme…
saya:
Itulah yang namanya “politik”. Menghalalkan segala cara. Sebelum sampe ke situ lo harusnya siap sama yang begituan.
dia:
Iya gue tau. Tulus demi idealisme lebih enak.
saya:
Tapi masa seumur hidup lo mau hidup dengan idealisme lo itu?
dia:
Gue percaya sebenernya bisa.
saya:
Tapi lo udah disitu. Lo mau mundur?
dia:
Ya gak juga. Gue udah keburu membawa sesuatu kesini. Sesuatu yang gue perjuangkan udah lama. Sesuatu yang gue buat gak cuma sendiri tapi bareng teman-teman yang lain. Gue gak mungkin mundur dan ngecewain temen-temen gue.
saya:
Jadi?
dia:
Gue perjuangkan sesuatu ini dulu sampai berhasil. Sedikit lagi kalau berhasil, buat sementara waktu gue berdiri sama tinggi sama mereka yang gue bilang muna tadi. Baru perlahan gue mundur dan kembali menjadi diri gue sendiri.
saya:
Sekarang semua dibuat demi nama besar, demi uang, dan lain-lainnya. Gak bisa ya sesederhana sesuatu dibuat karena memang dia harus dibuat. Kayak gue. Sebenernya udah lama ini gue rasain. Gue menulis buat dapet nama, buat uang… seringkali gue kangen kayak gue waktu sma, menulis karena gue memang harus menulis buat diri gue setiap hari, kalau gak gue bisa gila.
dia:
Gue masih percaya itu, bahwa sesuatu ada karena memang harus ada. Segala sesuatu dibuat tujuannya sederhana: untuk merayakan hidup.
saya:
Anyway, pada akhirnya yang harus kita lakukan adalah kompromi. Sama orang lain. Sama diri kita sendiri.
dia:
Pada akhirnya gue akan kompromi…. tapi tetap dengan tujuan merayakan hidup tadi.
saya:
Semoga. Ya udah deh… ngantuk gak?
dia:
Lumayan. Mau udahan ya?
saya:
Iya. Nite.
dia:
Nite (lalu dia menuliskan nama saya dengan deretan dua huruf terakhir panjaaaaang)…
Sebuah pertanyaan mampir ke kuping saya, “elo nulis film judulnya Love, terus beberapa film sebelumnya dan berikutnya juga banyak unsur “love”, pasti lo paham banget tentang kata (love alias cinta) itu ya?”
saya ketawa… bingung mau jawab apa…
So, this is the truth:
seperti ada kalimat “manusia menghargai sehat setelah merasakan sakit” atau “kita menghargai kata bahagia setelah merasakan ketidakbahagiaan”… begitupun saya dengan “cinta”.
Love (dan film-film lain yang ada unsur cinta), saya tulis karena saya menghargai “rasa” itu… dan semua respek saya terhadap “rasa” itu muncul setelah melalui entah berapa “sakit”… entah berapa “ketidakbahagiaan”… entah berapa rasa “tidak dicintai”…
Jadi kalaupun saya dianggap sukses (well… lumayan sukses deh) mengangkat tema cinta… itu bukan karena hidup saya melulu diisi oleh cinta… bukan… tapi lebih karena saya tau rasanya “tidak dicintai” dan betapa beruntungnya saya punya tempat menyalurkan khayalan dan mimpi saya tentang rasa dicintai dan menemukan cinta sejati, yaitu melalui skenario yang saya tulis.
Jadi kalau saya dikasih kesempatan mengucapkan terima kasih, selain buat keluarga, sahabat, dan pacar yang membuat saya merasa dicintai, saya juga akan berterimakasih buat mereka yang pernah membuat saya merasa tidak dicintai…. karena semua membuat perjalanan hidup saya menjadi seimbang antara senang, sedih, gelap, terang, penuh, kosong, ramai, sepi, menang dan kalah. Semua hal yang saya butuhkan untuk melengkapi pemahaman saya tentang satu kata… CINTA…
Di satu titik kita semua pernah dipaksa oleh situasi untuk jadi malaikat. Terus kita sadar kita tidak punya sayap. Terus kita stress mengira sayap kita hilang. But guess what… kita memang tidak pernah punya sayap. Kita bukan malaikat. Kita cuma punya kaki dua, tangan dua, dan satu hati yang siap dipakai semaksimal mungkin. Ketika sudah sampai ke tahap tidak bisa melakukan lebih, jangan anggap itu kesalahan. Karena paling tidak Tuhan tahu maksud baik kita dan Dia makin mencintai kita. And when we have nothing but God, is that more than enough?
sebuah sms yang saya kirim lebih dari setahun yang lalu ke teman saya dan kemarin dikirim kembali ke saya dari teman yang berbeda… ajaib…
Recent Comments