Kemarin ini saya mendownload sejumlah foto ke “facebook” saya. Seperti judul album foto tersebut “time to time shooting”, maka isinya adalah foto-foto “perjalanan” beberapa shooting yang saya ikuti dari tahun 2003 sampai 2007. Kemudian, beberapa jam yang lalu salah satu teman saya yang ikut terpotret di salah satu foto, menelepon, bilang bahwa ternyata banyak perubahan yang dia lihat di dirinya berdasarkan foto tersebut dibandingkan dengan dirinya yang sekarang. Foto yang dia maksud diambil tahun 2005. Dua tahun yang lalu. Waktu yang tidak lama sebenarnya. Tapi kemudian saya menyadari bahwa dalam dua tahun memang banyak perubahan yang terjadi. Bukan fisik (terus terang di umur pertengahan begini, perubahan fisik adalah hal yang cukup berat dilakukan), melainkan lebih ke isi kepala… isi hati… pikiran dan rasa.
Begitulah teman saya juga bilang, bagaimana dia melihat ketawanya di foto tersebut masih bisa “lepas”, dia bahkan bisa melihat bagaimana passion nya di dua tahun yang lalu tersebut sangat jauh berbeda dengan passion dirinya sekarang. Lalu teman saya -dia seorang cowok- tiba-tiba menangis di telepon dan bilang “I miss that moment when I still had the passion to be something”. Saya diam, teman saya itu sekarang memang sudah jadi “something”… bisa dibilang cita-citanya sudah tercapai dalam dua tahun ini, tapi dia merindukan saat-saat ketika cita-cita itu masih dikejarnya…
DUA TAHUN… waktu yang cukup singkat memang… tapi apapun bisa terjadi dalam hitungan detik sekalipun… perubahan terjadi begitu cepat… dan menjadi seseorang yang lebih baik, lebih “tinggi”, tidak otomatis menjadikan hidup menjadi lebih mudah… justru sebaliknya hidup bertambah rumit dari hari ke harinya. Mungkin itulah yang dirasakan teman saya dan juga saya ketika setelah menutup telepon, saya memutar ulang kembali hal-hal yang sudah terjadi dalam hidup saya.
Dua tahun yang lalu… saya di foto itu (saya kembali mengamatinya setelah pembicaraan di telepon), saya ingat sambil bekerja di lapangan saat itu, saya juga sambil mengerjakan sebuah tulisan tapi “cuma” satu judul. Saya yang sekarang (ada juga di foto tahun 2007 yang saya download), ketika bekerja di lapangan, harus memikirkan juga tulisan dan saya dikejar deadline oleh tiga.. bukan… empat (!) judul sekaligus… “bigger income, bigger responsibility, bigger burden on my shoulder!” Mungkin ini juga yang disebut “hidup itu seimbang”, tapi sumpah… senyum saya memang tidak selepas dua tahun lalu tersebut. Hmmm…
Saya lagi lagi memutar ulang memori otak… dan ya… betapa hidup berubah hanya dalam hitungan detik. Detik ketika orang tua saya meninggal, detik ketika saya memutuskan kuliah dimana, detik ketika seorang sutradara memilih tulisan pertama saya untuk difilmkan, detik ketika seorang sutradara lain memutuskan memilih saya menjadi asistennya di film “besar”, detik ketika saya menerima sebuah piala, detik ketika backpain mampir ke tubuh saya, bahkan detik ketika saya memutuskan untuk tidak lagi percaya sama lawan jenis sampai setahun kemudian (which is beberapa minggu yang lalu) saya memutuskan untuk mulai belajar percaya lagi… Semua detik yang merubah hidup saya dan cara saya memandang hidup itu sendiri.
Benar kata teman saya lagi, “I miss those moments when life was not as complicated as nowadays.”
Tapi, bagaimanapun… life goes on… time keeps running… dan berani mewujudkan mimpi berarti berani bangun dari tidur untuk menghadapi dunia yang sebenarnya… berani menghadapi kenyataan bahwa kemudahan bukanlah hal yang datang berulang kali…
“Easy doesn’t come around into this shitty life,” begitulah salah satu kutipan dari film Weather Man… and damn it’s right…
THOSE MOMENTS
15 01 2008Comments : Leave a Comment »
Categories : life


Recent Comments