kupu-kupu

29 01 2008

cu-all-b.jpg

Beberapa jam yang lalu, saya kumpul sama teman-teman masa kuliah… cuma bertujuh sih… tapi cukuplah buat “refill the energy” setelah sekian lama ketemu sama orang-orang yang sama hampir setiap hari. Menyenangkan ternyata cerita-cerita lagi tentang “dulu”. Apalagi kalau ngomongin dulu kita suka sama siapa, siapa suka sama kita… hahaha…

Beberapa jam yang lalu itu, kami terseret arus ke masa silam… termasuk saya yang terseret juga ke masa dimana saya suka sama satu nama yang ikut datang juga tadi. Teman-teman yang lainlah yang dengan tega menyeret saya. Gak cuma puas menyeret saya dan satu nama itu ke masa lampau, teman-teman pun dengan frontal menyarankan agar cerita dulu terjadi lagi di masa sekarang. Saya dan nama itu cuma ketawa-ketawa aja. Cukup susah sih untuk menahan pipi biar gak merah, menahan perut untuk gak melahirkan kupu-kupu lagi…

Tapi… untungnya saya cukup kuat.

Bagaimanapun setiap “rasa” juga punya waktunya sendiri. Rasa kupu-kupu beterbangan dalam perut gara-gara satu nama, ya cuma dimiliki sama waktu itu. Setelah waktu nya lewat… kupu-kupu nya juga pergi, berganti kupu-kupu lain buat nama lain juga. Sejak kupu-kupu milik dia pergi, entah berapa juta detik yang terlewati, entah berapa nama yang terlampaui, entah berapa kupu-kupu yang datang lalu pergi lagi… hingga sekarang.

Ketika kami berpisah tadi, lalu saya sendirian di dalam mobil, ada kupu-kupu baru yang terbang dalam perut saya… kupu-kupu yang muncul gara-gara tiba-tiba saya kangen sama “dia” yang saya miliki sekarang.

Lega juga bahwa ternyata saya tidak berlama-lama terseret ke masa silam dan berhasil membawa diri saya lagi ke masa sekarang…

ke saat ini…

ke detik ini…

ke satu nama yang kemudian saya kirimi sms: I love you.





PAMAN GOBER

27 01 2008

Meminjam perumpamaannya SGA, hari ini Paman Gober wafat. Rakyat berkabung… sekaligus mungkin mulai bertanya-tanya… siapa yang diwarisi gudang uangnya… siapa berikutnya yang akan menghabiskan waktu berenang di kolam renang raksasa yang isinya uang melulu itu?





inside a woman

23 01 2008

there is a woman
who pretends all the time
others can’t tell
is she happy or sad

there is a woman
hiding something inside her eyes
either with her tears
or even with her smile

there is a woman
who said “I’m okay” but didn’t mean it
who said “I’m hurt” but it means deeper

there is a woman
inside of every woman
who’s keeping secrets
as a treasure
waiting to be found
later or never…

copyright 2008





THOSE MOMENTS

15 01 2008

picture-13.jpg

Kemarin ini saya mendownload sejumlah foto ke “facebook” saya. Seperti judul album foto tersebut “time to time shooting”, maka isinya adalah foto-foto “perjalanan” beberapa shooting yang saya ikuti dari tahun 2003 sampai 2007. Kemudian, beberapa jam yang lalu salah satu teman saya yang ikut terpotret di salah satu foto, menelepon, bilang bahwa ternyata banyak perubahan yang dia lihat di dirinya berdasarkan foto tersebut dibandingkan dengan dirinya yang sekarang. Foto yang dia maksud diambil tahun 2005. Dua tahun yang lalu. Waktu yang tidak lama sebenarnya. Tapi kemudian saya menyadari bahwa dalam dua tahun memang banyak perubahan yang terjadi. Bukan fisik (terus terang di umur pertengahan begini, perubahan fisik adalah hal yang cukup berat dilakukan), melainkan lebih ke isi kepala… isi hati… pikiran dan rasa.
Begitulah teman saya juga bilang, bagaimana dia melihat ketawanya di foto tersebut masih bisa “lepas”, dia bahkan bisa melihat bagaimana passion nya di dua tahun yang lalu tersebut sangat jauh berbeda dengan passion dirinya sekarang. Lalu teman saya -dia seorang cowok- tiba-tiba menangis di telepon dan bilang “I miss that moment when I still had the passion to be something”. Saya diam, teman saya itu sekarang memang sudah jadi “something”… bisa dibilang cita-citanya sudah tercapai dalam dua tahun ini, tapi dia merindukan saat-saat ketika cita-cita itu masih dikejarnya…
DUA TAHUN… waktu yang cukup singkat memang… tapi apapun bisa terjadi dalam hitungan detik sekalipun… perubahan terjadi begitu cepat… dan menjadi seseorang yang lebih baik, lebih “tinggi”, tidak otomatis menjadikan hidup menjadi lebih mudah… justru sebaliknya hidup bertambah rumit dari hari ke harinya. Mungkin itulah yang dirasakan teman saya dan juga saya ketika setelah menutup telepon, saya memutar ulang kembali hal-hal yang sudah terjadi dalam hidup saya.
Dua tahun yang lalu… saya di foto itu (saya kembali mengamatinya setelah pembicaraan di telepon), saya ingat sambil bekerja di lapangan saat itu, saya juga sambil mengerjakan sebuah tulisan tapi “cuma” satu judul. Saya yang sekarang (ada juga di foto tahun 2007 yang saya download), ketika bekerja di lapangan, harus memikirkan juga tulisan dan saya dikejar deadline oleh tiga.. bukan… empat (!) judul sekaligus… “bigger income, bigger responsibility, bigger burden on my shoulder!” Mungkin ini juga yang disebut “hidup itu seimbang”, tapi sumpah… senyum saya memang tidak selepas dua tahun lalu tersebut. Hmmm…
Saya lagi lagi memutar ulang memori otak… dan ya… betapa hidup berubah hanya dalam hitungan detik. Detik ketika orang tua saya meninggal, detik ketika saya memutuskan kuliah dimana, detik ketika seorang sutradara memilih tulisan pertama saya untuk difilmkan, detik ketika seorang sutradara lain memutuskan memilih saya menjadi asistennya di film “besar”, detik ketika saya menerima sebuah piala, detik ketika backpain mampir ke tubuh saya, bahkan detik ketika saya memutuskan untuk tidak lagi percaya sama lawan jenis sampai setahun kemudian (which is beberapa minggu yang lalu) saya memutuskan untuk mulai belajar percaya lagi… Semua detik yang merubah hidup saya dan cara saya memandang hidup itu sendiri.
Benar kata teman saya lagi, “I miss those moments when life was not as complicated as nowadays.”
Tapi, bagaimanapun… life goes on… time keeps running… dan berani mewujudkan mimpi berarti berani bangun dari tidur untuk menghadapi dunia yang sebenarnya… berani menghadapi kenyataan bahwa kemudahan bukanlah hal yang datang berulang kali…
“Easy doesn’t come around into this shitty life,” begitulah salah satu kutipan dari film Weather Man… and damn it’s right…

74400457.jpg





the way

13 01 2008

the-way.jpg





ROGER

11 01 2008

Saya ingat cerita dari salah satu teman ajaib saya -Edw-, tentang seekor kodok bernama Roger. Roger yang suka pake topi koboi, selalu mengulum selembar jerami di bibirnya, dan selalu bawa gitar kemana-mana. Roger yang punya kekasih sebuah kaktus, Si Kaktus (agak kurang kreatif memang untuk nama sebuah kaktus), di gurun pasir. Suatu hari kekasihnya minta dicarikan air minum, sesuatu yang susah ditemukan pastinya di gurun pasir yang kata teman saya seluas samudera. Berangkatlah Roger mencari air untuk kekasihnya. Menempuh perjalanan melewati gurun pasir, siang, malam, bertahun-tahun. Dan di saat-saat tertentu, badai datang, angin berhembus dengan kencang, Roger berjalan sambil menunduk, memegang topinya agar tidak terbang, sambil mengulum jerami, dan berkata, “aku lelah”. Berjalan lagi, ketemu badai lagi, dan, “aku lelah” lagi…. Akhir cerita si kodok Roger ini terus terang saya lupa. Yang saya ingat cuma ekspresi Edw menirukan gaya Roger dan berkata, “aku lelah.” Lalu kami berdua tertawa terbahak-bahak dulu sebelum Edw melanjutkan cerita yang endingnya saya lupa itu. Demikianlah kemudian setiap kali saya ketemu teman ajaib saya itu, di sela-sela percakapan, seringkali dia menyelipkan “aku lelah”, lalu kami akan tertawa bersama-sama.

Lalu… beberapa hari yang lalu saya bertemu dengan teman saya yang ajaib itu. Bibirnya tertekuk. Rambutnya lebih berantakan dari biasanya, dan wajahnya lesu. Saya memperhatikan dia, lalu dia bilang, “aku lelah…”. Lelah yang sungguh-sungguh. Lelah yang berasal dari manusia. Lelah yang bukan lelahnya Roger si kodok. Saya tidak tertawa.

Edw lalu bercerita tentang proyek yang sedang ia kerjakan sudah berbulan-bulan, yang menyita semua daya otaknya, daya rasanya, lengkap dengan berbagai masalah yang tidak pernah berhenti, belum lagi masalah-masalah lain di luar proyek istimewa itu, yang bertumpuk-tumpuk di dalam kepalanya yang -betapapun ajaibnya manusia yang satu ini- ukurannya sama dengan kepala manusia lainnya.

Saya menatap dia lagi, menatap si empunya Roger, yang biasanya selalu punya alasan buat tertawa, tetapi hari itu seperti kehilangan alasan-alasan tertawanya. Dan entah datang darimana, tau-tau kata-kata mengalir dari mulut saya:

Otak manusia adalah sebuah lemari. Masalah adalah seperti benda-benda yang masuk tanpa henti ke dalam lemari. Menumpuk dan berantakan. Otak jadi penuh, lalu pusing tak berkesudahan. Kenapa kita tidak mencoba membuat laci-laci dalam lemari otak kita. Lengkap dengan kunci yang kita pegang sendiri. Laci masalah A. Laci masalah B. Laci masalah C. Dan seterusnya. Kita atur sendiri kategorinya. Ketika kita sedang menyelesaikan masalah A, kita buka lacinya, kita tunda dulu memikirkan masalah lain. Kita tutup dulu laci-laci yang lain. Selesaikan semuanya satu persatu. Ketika laci B perlu dibuka, kita tutup dulu laci A. Demikianlah setiap kali kita pakai sedikit waktu untuk menentukan laci mana yang jam ini kita buka. Jangan biarkan lemari kita berantakan tanpa laci. Jangan biarkan otak kita pecah cuma gara-gara kita tidak mampu memilih prioritas untuk diri sendiri. Karena begitulah yang saya lakukan selama ini. Dengan lebih dari satu proyek yang kerapkali saya jalankan berbarengan, konsep “laci” dalam otak ini sangat membantu. Jika satu waktu saya memutuskan memikirkan proyek A, maka saya sama sekali tidak memikirkan proyek B atau C atau D dulu. Semua saya lakukan dengan kesadaran bahwa kapasitas otak saya terbatas dan saya tidak mau mati muda cuma gara-gara stress atau depresi. Bahkan ketika kita sudah mampu membuat dan memanfaatkan laci-laci buatan kita sebaik mungkin, kita akan masuk ke tahap yang lebih susah lagi, yaitu membuat dua laci yang lebih istimewa, yaitu laci bahagia dan laci tidak bahagia. Tentu saja ini maksudnya supaya laci bahagia saja yang kita buka. Laci tidak bahagia kita tutup rapat-rapat (kadang-kadang saya buka laci tidak bahagia saya untuk sekedar mendapatkan mood yang pas untuk menulis cerita). Intinya, pada akhirnya keputusan apakah kita bahagia atau tidak adalah kita yang menentukan karena kuncinya cuma kita sendiri yang punya.

Edw cuma mengangguk-ngangguk, entah mengerti atau tidak. Tapi kemudian dia menundukkan kepala dan mengeluarkan ekspresi Roger nya sambil seakan-akan mengulum jerami dan bilang, “aku lelah”, lalu kami tertawa bersama-sama. Saya masih lupa ending cerita si Roger, tapi sepanjang ingatan saya, akhirnya adalah happily ever after.

dsc00939.jpg





ada

10 01 2008

Manusia tidak cuma butuh untuk ada. Lahir, diberi nama, ada, lalu tiada. Karena menuju tiada, banyak titik ketika ada di pertanyakan. Karena menuju tiada, langkah seringkali harus menjadi lari, kata harus menjadi cerita, tangan harus menjadi sayap, rasa harus menjadi cinta, dan ada harus menjadi bermakna. Maka manusia tidak cuma butuh ada, manusia butuh bermakna. Sesingkat apapun. Sekecil apapun. Karena tiada akan menghilangkan ada, tetapi mengabadikan makna seorang manusia.





coming soon

8 01 2008

picture-1.jpg

picture-2.jpg





VERTIGO

3 01 2008

January 1, 1986 : My father died by heart attack. Three months later, my mother died by breast cancer. Three months later I had my ten years old birthday.

January 1, 1987 : I realize how my life had changed only in one year… my thought was simple: the Christmas gifts, packages, cards, flowers, was far less then the year before when I still had my parents.

January 1, 1994 : Tried so hard to following the other teenagers, celebrating new years eve in one five star hotel with high class friends, partying, and woke up, realized “that was not me”.

January 1, 2002 : Spending new years eve with the very best friend, just the four of us, at Git’s house, that was the truly party with the truly friends, and it was truly me.

January 1, 2006 : My first new year’s eve at Bunderan HI with “teman-teman ajaib”, continued to Edw’s flat, smoke “sayur”, ate in warung indomie, all night talking about “majas”. Hahaha…

January 1, 2007 : Celebrated new year’s eve at Kang Un’s office, still with “teman-teman ajaib” (and I’ll never forget my conversation with my most ajaib friend, next to the swimming pool… hahaha… “peace, dey!”) then continued to Ginkz’s house until morning (don’t ask me what happened, I didn’t remember… hehehe).

January 1, 2008 : Well, still with “teman-teman ajaib”, but this time with my boyfriend (!), celebrated new years eve at Kemang (Supri’s place) then continued to Bol’s house. But the most important thing to share here was that when I woke up in the morning, I was feeling very dizzy, “the world like turning upside down”, then my boyfriend took me to hospital. January 1, 2008, I was diagnosed have a vertigo disease.

And now, even I’m feeling so much better, I’m posting this from my laptop in my hospital room….

HAPPY NEW YEAR 2008

img_4350.jpg