Saya ingat cerita dari salah satu teman ajaib saya -Edw-, tentang seekor kodok bernama Roger. Roger yang suka pake topi koboi, selalu mengulum selembar jerami di bibirnya, dan selalu bawa gitar kemana-mana. Roger yang punya kekasih sebuah kaktus, Si Kaktus (agak kurang kreatif memang untuk nama sebuah kaktus), di gurun pasir. Suatu hari kekasihnya minta dicarikan air minum, sesuatu yang susah ditemukan pastinya di gurun pasir yang kata teman saya seluas samudera. Berangkatlah Roger mencari air untuk kekasihnya. Menempuh perjalanan melewati gurun pasir, siang, malam, bertahun-tahun. Dan di saat-saat tertentu, badai datang, angin berhembus dengan kencang, Roger berjalan sambil menunduk, memegang topinya agar tidak terbang, sambil mengulum jerami, dan berkata, “aku lelah”. Berjalan lagi, ketemu badai lagi, dan, “aku lelah” lagi…. Akhir cerita si kodok Roger ini terus terang saya lupa. Yang saya ingat cuma ekspresi Edw menirukan gaya Roger dan berkata, “aku lelah.” Lalu kami berdua tertawa terbahak-bahak dulu sebelum Edw melanjutkan cerita yang endingnya saya lupa itu. Demikianlah kemudian setiap kali saya ketemu teman ajaib saya itu, di sela-sela percakapan, seringkali dia menyelipkan “aku lelah”, lalu kami akan tertawa bersama-sama.
Lalu… beberapa hari yang lalu saya bertemu dengan teman saya yang ajaib itu. Bibirnya tertekuk. Rambutnya lebih berantakan dari biasanya, dan wajahnya lesu. Saya memperhatikan dia, lalu dia bilang, “aku lelah…”. Lelah yang sungguh-sungguh. Lelah yang berasal dari manusia. Lelah yang bukan lelahnya Roger si kodok. Saya tidak tertawa.
Edw lalu bercerita tentang proyek yang sedang ia kerjakan sudah berbulan-bulan, yang menyita semua daya otaknya, daya rasanya, lengkap dengan berbagai masalah yang tidak pernah berhenti, belum lagi masalah-masalah lain di luar proyek istimewa itu, yang bertumpuk-tumpuk di dalam kepalanya yang -betapapun ajaibnya manusia yang satu ini- ukurannya sama dengan kepala manusia lainnya.
Saya menatap dia lagi, menatap si empunya Roger, yang biasanya selalu punya alasan buat tertawa, tetapi hari itu seperti kehilangan alasan-alasan tertawanya. Dan entah datang darimana, tau-tau kata-kata mengalir dari mulut saya:
Otak manusia adalah sebuah lemari. Masalah adalah seperti benda-benda yang masuk tanpa henti ke dalam lemari. Menumpuk dan berantakan. Otak jadi penuh, lalu pusing tak berkesudahan. Kenapa kita tidak mencoba membuat laci-laci dalam lemari otak kita. Lengkap dengan kunci yang kita pegang sendiri. Laci masalah A. Laci masalah B. Laci masalah C. Dan seterusnya. Kita atur sendiri kategorinya. Ketika kita sedang menyelesaikan masalah A, kita buka lacinya, kita tunda dulu memikirkan masalah lain. Kita tutup dulu laci-laci yang lain. Selesaikan semuanya satu persatu. Ketika laci B perlu dibuka, kita tutup dulu laci A. Demikianlah setiap kali kita pakai sedikit waktu untuk menentukan laci mana yang jam ini kita buka. Jangan biarkan lemari kita berantakan tanpa laci. Jangan biarkan otak kita pecah cuma gara-gara kita tidak mampu memilih prioritas untuk diri sendiri. Karena begitulah yang saya lakukan selama ini. Dengan lebih dari satu proyek yang kerapkali saya jalankan berbarengan, konsep “laci” dalam otak ini sangat membantu. Jika satu waktu saya memutuskan memikirkan proyek A, maka saya sama sekali tidak memikirkan proyek B atau C atau D dulu. Semua saya lakukan dengan kesadaran bahwa kapasitas otak saya terbatas dan saya tidak mau mati muda cuma gara-gara stress atau depresi. Bahkan ketika kita sudah mampu membuat dan memanfaatkan laci-laci buatan kita sebaik mungkin, kita akan masuk ke tahap yang lebih susah lagi, yaitu membuat dua laci yang lebih istimewa, yaitu laci bahagia dan laci tidak bahagia. Tentu saja ini maksudnya supaya laci bahagia saja yang kita buka. Laci tidak bahagia kita tutup rapat-rapat (kadang-kadang saya buka laci tidak bahagia saya untuk sekedar mendapatkan mood yang pas untuk menulis cerita). Intinya, pada akhirnya keputusan apakah kita bahagia atau tidak adalah kita yang menentukan karena kuncinya cuma kita sendiri yang punya.
Edw cuma mengangguk-ngangguk, entah mengerti atau tidak. Tapi kemudian dia menundukkan kepala dan mengeluarkan ekspresi Roger nya sambil seakan-akan mengulum jerami dan bilang, “aku lelah”, lalu kami tertawa bersama-sama. Saya masih lupa ending cerita si Roger, tapi sepanjang ingatan saya, akhirnya adalah happily ever after.

Recent Comments