THIS IS ME

30 12 2007

BIG THINGS:
senja.jpg
Sangat suka senja tapi kenyataannya jarang meluangkan waktu untuk duduk dan menikmatinya. Senang menatap gerimis di kaca jendela lalu mulai kehilangan mood ketika gerimis menderas berganti hujan. Hidup dari film tapi lebih suka membaca daripada menonton. Diam-diam selalu menyelipkan pesan-pesan pribadi di dalam setiap skenario yang ditulis. pilm.jpg

Masih dan mungkin akan selalu bertanya apakah cinta benar-benar ada (or is love only a myth?). Membenci binatang yang bernama tikus dengan segala mahluk sebangsanya, termasuk mickey mouse dan pacarnya minnie (sudah tikus, genit pula… no way!). Bisa tiba-tiba jadi pendiam jika peserta keramaian jumlahnya lebih dari sepuluh orang dan apalagi asyik bicara sendiri-sendiri (rasanya seperti “ada kampak di sekujur tubuh”). Punya sedikit teman yang normal dan selebihnya ajaib semua. Tidak suka memakai singkatan-singkatan untuk ber-sms. Kalau bad mood tingkat tinggi, salah satu obat ampuh adalah “sayuran” dicampur dengan partner yang pas untuk tertawa-tawa tanpa alasan. sayur.jpg

Punya cita-cita pengen buat tatto bertuliskan “hope” hope.jpg
karena percaya bahwa harapan melahirkan keajaiban-keajaiban yang membuat hidup terus berjalan.

SMALL THINGS:
Selalu sedia kertas minyak untuk muka dan setelah memakai kertas itu, kertas diikat dulu baru dibuang. Senang bikin pesawat-pesawatan dari bekas bill restauran atau brosur-brosur yang dibagikan di mall. Kalau punya bentol, suka memberi tanda tambah atau sekedar tiga garis sejajar di bentol itu, dengan ujung kuku jari tangan. Selalu membuka kaca jendela dan mengeluarkan kepala kalau lagi mengisi bensin karena suka bau bensin. Tidak suka bekas air dari embun gelas dan abu rokok yang berantakan di sekitar asbak, sehingga kalau di restoran bisa sibuk sendiri mengelap meja yang “dikotori” percikan abu dan lingkaran air bekas gelas yang digeser. Tidak suka melihat abu rokok dibuang di wadah yang bukan asbak, such as piring bekas makan, atau gelas plastik bekas teh dan kopi yang diedarkan keliling pas shooting.

“SO-CALLED SICK” THINGS

kaki.jpg
Senang memotret kaki sendiri.
Punya koleksi barang-barang berbentuk pisang dari yang ukurannya sebesar badan anak balita sampai sekecil kuku kelingking. Memberi nama ke benda-benda mati kesayangan seperti mobil (goldie), laptop (pobi), handphone (orgi), gantungan di handphone (lolita dan koh riri), boneka dolphin (abu) dan boneka catbus (choco) di dashboard goldie, abu.jpg
dan tidak malu-malu mengenalkan mereka ke teman-teman dan dengan memaksa meminta teman-teman bersalaman dengan benda-benda mati tersebut (“udah kenal sama abu? kenalin… ini abu… abu ini om/tante A…”).
Kalau tengah malam ke kamar mandi dan buang air besar, semua keran (wastafel, shower, sampai keran buat mengisi ember) harus dinyalakan, karena tidak suka duduk diam dalam situasi tanpa suara apa-apa.





XXX v.s YYY

30 12 2007

Di suatu subuh, di sebuah ruangan yang dipenuhi komputer-komputer dan layar besar di tembok, plus kepulan asap rokok, sementara di luar angin dan hujan tidak juga berhenti, manusia yang berbicara dengan berapi-api itu bertanya kepada saya, “Elo anggota XXX kan?”
“Iya… tapi gue nggak ngerti apa-apa sebenarnya,” jawab saya.
“Itulah… makin kesini XXX itu makin gak jelas perjuangannya,” sahutnya.
Saya menggangkat bahu.
“Karena mereka gak jelas, makanya gue memilih cabut dan mendukung YYY”, sambungnya lagi.
Saya memainkan bibir saya, “Gue bener-bener gak ngerti. Gue netral aja sebenernya.”
“Sekarang justru paling susah jadi netral. Lo harus punya pilihan,” dia menatap saya.
Saya lagi-lagi mengangkat bahu, lalu terdiam. Manusia itu melanjutkan pembicaraan dengan berapi-api lagi dengan beberapa manusia lain yang ada di ruangan, yang sesekali menanggapi sama semangatnya, atau cuma sekedar mengangguk-ngangguk.
Saya diam, tenggelam dalam pikiran saya sendiri… ternyata memang susah menjadi abu-abu, bingung memilih antara hitam atau putih. Yang lebih parah lagi saya bahkan bingung mana yang hitam, mana yang putih… saya merasa jadi manusia paling labil sedunia…

SAYA GAK TAU APA-APA… YANG SAYA TAU SAYA MENDUKUNG… HMMM… MENCINTAI… FILM INDONESIA DAN SEMUA MANUSIA YANG BERGERAK DI DALAMNYA… DAN YANG PASTI, SAYA JUGA SAMA GELISAHNYA DENGAN KALIAN SEMUA…





ruas punggung nomer lima

28 12 2007

dsc00382.jpg

Gue inget di suatu pagi tanggal 15 februari tahun ini (2007), gue gak bisa bangun dari tempat tidur… pinggang punggung gue sakit luar biasa… bahkan kaki gue gak bisa gue rasain… gue paksa bangun, malah black out… gue takut banget dan di pikiran gue adalah gue… lumpuh… Oh My God… seharian gue cuma berbaring, dua kakak laki-laki gue yang badannya segede raksasa dateng dan gak bisa berbuat apa-apa… finally menjelang malam kakak cewek gue dateng dan gue dibawa ke rumah sakit. Hasilnya: syaraf punggung gue kejepit di ruas punggung nomer 5 (ada istilah kedokterannya tapi gue lupa), yang pasti gue gak bisa bergerak dengan leluasa lagi… gak boleh nyetir sendiri, gak boleh angkat barang berat, gak boleh ngebungkuk, gak boleh olahraga selain berenang, gak boleh ini itu, harus terapi dua bulan, pake korset dua bulan dan… gak boleh kerja berat alias kerja lapangan lagi… padahal salah satu pekerjaan favorit dan andalan gue adalah asisten sutradara, which is pekerjaan lapangan banget… (lebih berat daripada jadi sutradara tauuuuu…)… yah gitulah… sebuah vonis yang sebenarnya cukup membuat gue sedih… sebenarnya beberapa bulan sebelumnya gue selalu ragu antara dua pilihan: terus jadi astrada dan penulis… atau… berhenti jadi astrada dan jadi penulis aja… dan Tuhan yang menjawabnya buat gue… gue emang harus berhenti kerja di lapangan dan jadi penulis aja! well… at least kalo gue sembuh pun gue gak boleh menerima semua kerjaan astrada yang dateng ke gue. Harus pilih-pilih banget.
Anyway, sampe kapanpun sih kata dokter sakit gue itu bisa kambuh… dan damn, dokter benar… sejak serangan pertama entah udah berapa kali tahun ini gue dapet serangan-serangan berikutnya. Entah berapa persen dari 365 hari tahun ini gue cuma bisa terbaring seharian gak ngapa-ngapain… kalopun jalan, tertatih-tatih sambil menahan sakit yang luar biasa.
Tapi begitulah… seperti kata orang bijak: selalu ada hikmah dibalik setiap peristiwa. Demikianlah dari sakit itu gue mencoba mengambil hikmah nya, sebagai salah satu dari sekian banyak berkat yang gue dapet di tahun 2007 ini:
1. gue jadi lebih konsen dalam menulis… dan Puji Tuhan… banyak job menulis tahun ini…
2. gue dapet driver yang nyetirin gue kemana-mana yang luar biasa baiknya
3. pas nulis buat salah satu film dan gue ditawarin jadi astrada, gue gak bisa, eh malah naik pangkat jadi co sutradara dan it was fun!
4. dan yang paling penting… gara-gara gue sakit, gue sadar bahwa ternyata banyak yang khawatir sama gue dan mereka tulus banget sayang sama gue… That was the most precious thing!
So… ketika semua “musibah” gue terima dengan lapang dada dan gue menyatakan siap berkompromi dengan kenyataan, good things happened… and my life keep running although in different way…
Thank You God…





NATAL

25 12 2007

tirai bergerak oleh angin karena jendela yang lupa ditutup, deretan foto dengan wajah tersenyum, tumpukan buku yang sebagian masih terbungkus plastik, pohon natal kecil di atas lemari yang bertahun-tahun tetap disitu, dengung mesin pendingin ruangan yang cukup halus karena baru diservis, kalender yang sebentar lagi masuk ke tempat sampah, sisa-sisa air mata tahun lalu yang sudah jadi fosil di sprei dan selimut, dan… ingatan akan beberapa jam lewat ketika untuk pertama kalinya ada yang bilang, “Merry Christmas” dan disambung “I love you”. Lalu untuk pertama kalinya juga bisa dibalas dengan, “Merry Christmas, I love you too.”

THIS IS MY FIRST TIME THAT “CHRISTMAS” AND “LOVE” ARE POSSIBLE TO BE SAID IN ONE SENTENCE.

img_4172.jpg





SUATU SORE

23 12 2007

DUA WANITA DUDUK DI SUDUT CAFE YANG MASIH SEPI PENGUNJUNG. SINAR MATAHARI SORE MASUK MELALUI JENDELA. BIAS CAHAYA ORANYE MEMANTUL KE SEBAGIAN WAJAH MEREKA. SEBAGIAN LAGI GELAP KARENA LAMPU-LAMPU DALAM CAFE BELUM DINYALAKAN.
A: Istrinya udah tau dan mulai meneror gue lewat telpon dan sms.
B: Apa katanya?
A: Dia bilang gue gak punya perasaan, gue perek…
B: Perek juga punya perasaan kali.
A: Terus dia bilang gue akan masuk neraka karena udah menghancurkan rumah tangga dia.
B: Waduh… terus lo bilang apa?
A: Gue bilang kalo rumah tangga nya udah hancur sebelum gue kenal sama lakinya.
B: Hmm… kasian…
A: Siapa?
B: Istri itu.
A: Kok?
B: Yah… dulu sehancur apapun dia masih punya kehancuran itu utuh. Sekarang dia harus ngebaginya sama elo.
A: Gue gak ngerti.
B: Kalian berdua lagi berbagi kehancuran.
A: Gue dan laki gue bahagia.
B: Di atas penderitaan istrinya?
A: Ah. Basi lo. Seinget gue dulu lo mendukung gue pas gue mutusin pacaran sama suami orang. Kata lo asal gue bahagia.
B: Iya. Gue salah.
A: Tuhkan. Gue udah kayak gini aja, lo baru protes.
B: Kayak gini gimana?
A: Iya… bingung, kesel, marah, karena diteror melulu sama istrinya.
B: Kata lo tadi lo bahagia, kok bingung, kesel, marah?
A: Bahagia karena laki gue. Gak bahagia karena teror-teror itu.
B: Jadi lo bahagia apa gak bahagia sih?
LALU… HENING…
A: Sebenernya maksud elo apa… dari tadi elo ngomong muter-muter.
B: Maafin gue.
A: Buat?
B: Ngebiarin elo sampe kayak gini.
A: Sekarang gue udah kayak gini. Gue gak bisa balik lagi. Gue sayang banget sama laki gue. Dia juga sayang banget sama gue. Katanya dia lebih sayang gue daripada sayang ke istrinya.
B: Kalo gitu suruh dia milih secepatnya aja, istrinya apa elo.
A: Hmm… iya nanti gue minta. Terus abis itu gue bisa nikah sama dia. Setuju?
B: Kalo lo bisa nikah sama dia dan beberapa tahun kemudian ada lagi orang ketiga, gimana?
A: Yah… jangan dong… dia sayang banget kok sama gue.
B: Awal nikah sama istrinya dia juga sayang banget sama istrinya.
A: Yah… mulai deh muter-muter lagi omongan elo.
B: (ketawa) Sorry… Kalo dia berhasil cerai dan nikahin elo, lo bakal bahagia terus?
LALU… SEBUAH JEDA WAKTU YANG CUKUP LAMA.
A: (pelan) Gue gak tau…
B: Kok tampang lo berubah gitu?
A: Tiba-tiba gue ngerasa ribet banget yah hidup gue.
B: Tapi lo bahagia.
A: Gue… jadi ragu… sebenernya gue bahagia apa nggak sih?
LAMPU-LAMPU DALAM CAFE SUDAH DINYALAKAN SEMUA. DI JENDELA, SINAR MATAHARI SUDAH MENGHILANG.





I JUST GAVE YOU MY KEY… SO FROM NOW, YOU DON’T HAVE TO KNOCK…

22 12 2007

me-him.jpg





2007 IS ABOUT TO END

21 12 2007

me

yup… another year is about to end… another year is about to come… and I decided to start my own blog. I love to write. Usually I didn’t share it with world, but then I thought what’s wrong with sharing my thoughts and my feelings? Because some of them were too precious to keep for myself. Like happiness… I do believe that happiness means a lot more if we could share it with others. The question is… do I consider myself happy now? The answer is yes.
Last year… december 2006 was the lowest point in my life. But then after making mistakes, after that big lost, I tried to live my life in a very simple way and that’s let everything flowing. Let go what had to go. Then one day I woke up and I was fine. I’m cured by the same thing that hurt me last year. Life.
Anyway… I know life would never be easier. But at least now I know that my goal in life is as simple as being happy… and happiness is not about get what you want, but it’s about get what you need… and how you appreciate it… every inches of it…