dd!!!!

19 07 2011

Saya baru saja melewati sebuah kejadian penting gak penting. Teman saya yang selalu saya kasih inisial “dd” di blog ini… karena kesibukan, plus hubungan pertemanan dan manusia-manusia di sekitar pertemanan yang semakin rumit, saya makin jarang bertemu dia… sampai kemudian tepat jam 01:51 dini hari tadi, sebuah pesan masuk ke bbm saya dari teman kami juga yang isinya: dd ilang!

Whaaatttt??

Kronologis secara singkat kira-kira begini: dd pulang kerja jam 10 malam naik taksi… suaminya baru pulang jam 1-an dan tak bisa masuk rumah (yang merangkap kantor) karena kunci di dd, menghubungi dd tak diangkat, lalu mulai menghubungi teman-temannya… dan sampai ke bbm saya: dd ilang! itu tadi.

Panik? Panik benerrrrrr.

Tapi saya mencoba cool dan dengan santai menanyakan ke mbai, salah satu  teman kami yang lagi sering bersama dd. Tapi tak juga menemukan jawaban tentang keberadaan dd dari mbai.

So selama dari jam 01:51 sampai sekitar 02:30 an pagi, saya berusaha terjaga menunggu berita, terus mem-bbm dd juga biarpun cuma “delivered” gak sampai “read”, hingga menghubungi teman saya yang katanya bisa meramal segala buat “melihat” ada di mana dd. Sambil tetap berpikiran positif bahwa dia cuma ketiduran dan gak denger apa-apa.

Setelah sekitar 40 menit menunggu dengan jantung lompat-lompat kecil, dd membalas bbm saya dengan emoticon :D

dan mengabarkan bahwa dia ketiduran dengan HP silent.

Whaaattt?

Sebel? Sebel bangeeeetttt.

Tapi selalu ada hal positif yang bisa diambil bahkan dari rasa sebel kan?

Sampai detik ini, sampai saya memutuskan menulis disini, sudah sejam berlalu sejak dd “ditemukan”… tapi jantung saya masih lompat-lompat kecil. Membayangkan kalau tadi beneran ada apa-apa sama temen saya yang ajaib ini…

Ternyataaaaaaa… she still means a lot to me :)

So if you read this d, (walopun gw tau lo gak pernah baca blog gw), please deh… do me a favor. Jangan ilang beneran dan jangan “ada apa-apa” beneran yaaaaaa…

Males banget nih deg-degan kayak tadi lagi.

Whuuuuuuu…





little thought on easter

24 04 2011

I just suddenly remember a little part of my childhood.

It was one Sunday when me and my brothers and sister went to church and accidentally we all wore black pants. As a youngest kid, I found it funny and I was giggling during the mass. I don’t know why I remember that part all of sudden compared to other things.

Sometimes I miss the time when five of us still walking on same path to worship Him. But then I said to my self “oh what the heck” It is not a big matter what path we choose as long as it lead us to the better person today. Just like the five of us. The path we choosed have made us better than yesterday. And it didn’t change the fact that we love each other very much, so other people can see and envy us :)

Happy Easter anyone who celebrate it. If you didn’t celebrate easter, so… happy weekend.
Enjoy life, enjoy differences…





my blackberry capturing jakarta after raining

7 03 2011

I love my city when it’s rain and the minutes after…





dear you

14 01 2011

Dear you,
I’ve been taught to not hate other person since I was a little kid by my mom. It’s one of her wisdom that I carry on until now. The words have made me never hate anyone, not even some people that hurt me so much. As I growing up, this stuff most of a time made me weak, but I couldn’t do something about it and I look at it as a positive thing that I have inside of me.
So whatever you think about me, all the things you said that I’ve been done something bad to you, I didn’t take care enough for you as a friend, that I’ve been planned to making your world in trouble, or anything else that made you angry with me, you were wrong. You are wrong.
I never hate you. I’ve tried everything to make you happy about our friendship. I’ve even tried harder to make you happy about yourself. So it hurts me hearing that you now thinking I’m a bad person. It kills me knowing that you hate me because you thought I hate you.

So to you,
Sorry if I can’t see your face again. Because seeing you will make me sad, and I don’t want to be sad. I cannot take care of you anymore. I cannot be a friend like I used to be anymore. Right now I’m learning to forget all the bad things you said about me and I just want to remember you the way I want to remember you. A good person. A good friend.

I don’t hate you.
You just no longer exist.





bulan delapan

14 08 2010

Bulan apa sekarang? Agustus…

Berarti delapan bulan tidak menulis disini. Antara sibuk sekali atau sama sekali tidak ada kesibukan yang justru membuat kehilangan mood untuk melakukan hal apapun termasuk mengisi blog.

Delapan bulan… banyak yang bisa diceritakan sebenarnya walaupun bisa juga dirangkai hanya dalam satu kalimat.

Delapan bulan bisa jadi terasa panjang, bisa juga terasa singkat. Seperti deretan foto-foto keluarga mulai dari masa kecil sampai masa tua yang ternyata bisa merangkum perjalanan hidup puluhan tahun, hanya sebatas satu sisi tembok di ruang tengah sebuah rumah.

Tapi mari kita lihat saja perbulan… apa yang menjadikannya penting… paling tidak buat saya karena saya yang punya blog :)

Saya coba memulainya dari Januari.

Januari 2010

Pertengahan Januari, saya menulis sekaligus mencoba menjadi produser sebuah film pendek berjudul Planet Gajah. Sutradaranya teman saya “nomer satu di dunia”, Sinyo. Dari sini kemudian muncul ide antara saya dan Dd (yang juga baru menjadi produser film pendek yang shooting di malam tahun baru berjudul Full Moon, yang kebetulan saya juga yang tulis dan sutradaranya Sidsal), untuk membuat rangkaian film pendek dalam satu film panjang yang biasa disebut dengan istilah Omnibus.

"full moon"

"planet gajah"

Sebuah cita-cita yang selanjutnya sampai detik ini sedikit demi sedikit mulai kami wujudkan tentu saja dengan kerjasama luarbiasa dari teman-teman sutradara… dengan segala keterbatasan, perbedaan visi, kesibukan masing-masing individu, proyek ini kemudian cukup menjadi pengisi hidup yang menyenangkan di delapan bulan ini.

Februari 2010

Omnibus serius berlanjut. Di bulan ini kami shooting sekaligus dua film pendek lagi berjudul Peron dan Roller Coaster, masing-masing sutradaranya Kin dan Edw.

Masalah lain di luar Omnibus muncul. Penundaan fee sebagai kru sebuah film yang sudah selesai shooting tahun lalu mulai mencuat di permukaan, atau paling tidak di antara kami para kru film tersebut, yang mulai gelisah karena merasa sudah memenuhi kewajiban tapi tak juga dipenuhi haknya. Masalah yang cukup membuat tidak cuma kepala yang sakit, tapi hati juga…

Status Facebook dari pihak-pihak tertentu pun mulai bikin parno. “Kayak aneh”

Maret 2010

Situasi sehubungan masalah di atas “memanas”. Saya stress berat. Tapi dibalik semua itu saya jadi tau kenapa Tuhan memilih dia untuk menjadi suami saya. Kekuatannya menjadi kekuatan saya ketika kesedihan saya menjadi kesedihannya. “Makasih ya sayang…” :)

Tuhan juga meng-anugerahi saya tempat curhat bernama Ntan dan Dsy… (hmmm… untuk dua nama ini saya sebenarnya butuh menulis postingan-postingan terpisah, karena mereka termasuk yang “selalu ada”… ) plus tentu saja semua kakak-kakak saya yang baik hati…

Bulan ini proyek omnibus berhasil shooting satu film lagi dengan sutradara Mas AS,  judulnya “Payung”. Menyenangkan…

"payung"

April 2010

Saya dan sahabat-sahabat saya, Sit, Wit, Shin, (Wish you were with us, Git…), jalan-jalan ke Singapore. Tujuan utama Universal Studio yang baru buka. Tujuan fisik ya… Tujuan psikologisnya sih mau ngetest pertemanan karena kami bersahabat entah sudah berapa ratus tahun dan belum pernah travelling bareng. Perjalanan ke Singapore harusnya juga jadi satu postingan sendiri… tapi saya tak sempat… huhuhu… maaf ya, Monkeys…

Anyway tentu saja di sebuah perjalanan bersama, sifat asli individu pasti keluar… yang bagus dan yang jelek… but guess what… kami toh bisa melalui empat hari di singapore dan pulang ke Jakarta dalam keadaan utuh sebagai individu maupun empat sahabat. (Again, we missed you a lot there, Git…)

Oh ya… masalah “pelik” tentang hak kru yang saya ceritakan sebelumnya diselesaikan sudah. Walaupun kemudian saya belajar bahwa sebesar apapun uang yang dibayarkan tak bisa menghapuskan sakit itu. Tapi ya sudahlah. Daripada gila.

Untuk omnibus, kami berhasil shooting satu lagi berjudul “Tokek”. Sutradaranya Culap. Hmmmm… disini saya jadi pemain yang perannya cuma tidur terus… hihihi…

Mei 2010

8 Mei 2010 adalah Ulangtahun Pernikahan kami yang pertama. Setahun. Dan semua baik-baik saja. Tentu saja pertanyaan dari orang-orang masalah anak selalu ada dan makin banyak. Saya dan suami memutuskan memeriksakan diri ke dokter dan semua baik-baik saja. Berarti Tuhan pasti punya alasan yang indah kenapa kami harus menunggu :)

Di bulan ini, omnibus terus berlanjut dengan shooting satu film pendek lagi berjudul “Percakapan Ini”, sutradaranya Ipah.

Di bulan ini juga salah satu film yang saya tulis tayang di bioskop. Film yang mencoba berbicara ke penonton untuk selalu percaya pada impian. “Ketika kita sedang mengejar impian kita, percayalah impian itu juga sedang berlari ke arah kita.”

Juni 2010

Bulan ini saya genap berusia 34 tahun. Woooowwww…. Sementara saya selalu merasa umur saya sudah berhenti di 30 kemarin. Hehehe…

Film yang punya masalah dengan para kru yang saya ceritakan sebelumnya, tayang juga di bulan ini. Akhirnya… Film ini cukup menuai pujian di review-review nya. Cuma yang paling saya ingat adalah ketika saya dikirimi message dari salah satu sutradara favorit saya, “Kenapa tadi malam pas premiere, penulis skenarionya tidak diperkenalkan? Padahal penulis itu penting.”

Dan saya balas message tsb, “Banyak hal tidak penting yang membuat kehadiran saya tadi malam menjadi tidak penting.” … Ouch!

Juli 2010

Proyek omnibus mulai masuk tahap post production, tapi saya terpaksa meninggalkan Dd sebentar ke… Ambon!

Iya… saya ke Ambon dari tanggal 24 Juli sampai 4 Agustus kemarin untuk menjadi mentor di acara “Workshop Pembuatan Filem Generasi Muda Maluku 2010”. Pesertanya adalah 30 murid dari 6 Sekolah Menengah Atas di Ambon. Ada 6 mentor dari Jakarta (Hei, dari enam mentor yang ikut, empat di antaranya sutradara omnibus. Ditambah saya, jadi Dd ditinggalkan sejenak oleh lima rekannya. Maaf ya Dd!).

Di sini kami membimbing mereka, yang belum pernah membuat film sama sekali sebelumnya, sampai bisa menghasilkan 6 film pendek. Mengajarkan mereka tentang proses. Mengajarkan mereka bahwa ada banyak hal baru, di luar hal-hal yang sudah mereka jalani setiap hari.

“Katong su jago manyanyi mari katong biking film jua!” :)

Di sini juga, akhirnya saya bertemu lagi sama pantai, laut, dan bintang-bintang…

Dan mereka masih sama menyenangkannya seperti dulu ketika saya pertama kali mengenal mereka… mereka selalu berhasil membuat saya berharap hidup berhenti sejenak, disini, di titik ini…

Tapi tentu saja hidup berlanjut… dan disinilah saya berada sekarang di bulan Agustus. Bulan kemerdekaan buat Indonesia sekaligus tahun ini bulan puasa buat kaum muslim. Bulan dimana saya kembali menghadapi banyak deadline, pekerjaan rumah, janji sana sini yang harus segera saya penuhi…

Bulan apa sekarang? Agustus…

Belum akhir tahun… tapi rasanya saya sudah cukup penuh terisi sebagai manusia… tentu saja… dengan bocor-bocor kecil di sana sini… yang membuat sampai kapanpun kesempurnaan tak akan pernah terjadi…

well, that’s life…





tahun baru (lagi)

10 01 2010

Sudah sepuluh hari lewat pergantian tahun. Belum ada yang ditulis. Mungkin tidak ada yang bisa diceritakan. Mungkin terlalu banyak yang ingin diceritakan. Mungkin tidak punya resolusi tahun baru. Mungkin terlalu banyak resolusi untuk dua ribu sepuluh.

Yang pasti tahun tetap berganti biarpun tanpa meniup terompet dan main kembang api.

Yang pasti waktu terus berjalan biarpun jam di ruang tamu sudah lama tak berfungsi.

SELAMAT DATANG 2010

:)





dermaga

7 12 2009

Saya sudah ada di Jakarta lagi… setelah hampir satu setengah bulan menjalani proses shooting film di Hong Kong (HK) plus Sidoarjo, Jawa Timur.
Seperti shooting-shooting film sebelumnya, apalagi ini di luar kota (eh… luar negeri), begitu banyak cerita, begitu banyak momen, peristiwa, apapun namanya, yang terjadi dari sebuah kebersamaan.
Seperti ketika sekitar setahun yang lalu saya shooting di Belitung, saya mengukir banyak cerita bersama dua perempuan unik: Bucit dan Tikyu, di shooting ini pun saya menemukan dua manusia… manusia yang sebenarnya sudah ada dari dulu… namun menjadi lebih dekat karena kebersamaan selama satu setengah bulan ini: sebut saja si nomer 1 dan nomer 2 ( ini mereka yang menamakan diri mereka sendiri :) )
Menjelang selesainya shooting, saya tiba-tiba teringat bahwa  si nomer 2, datang ke HK dengan masalah yang cukup berat ttg hidupnya, namun ajaibnya, dia jugalah menjadi manusia yang paling sering membuat saya tertawa selama shooting berlangsung.
Tempat favorit kami selama di HK adalah sebuah dermaga di daerah Causewaybay… disitulah dengan “norak” nya kami bertiga, di malam terakhir, menuliskan harapan-harapan kami di selembar uang 10 hk dolar, lalu melemparkannya ke laut. Tapi seberapapun noraknya, saya bahagia sekali malam itu. Sama bahagia nya dengan ketika malam terakhir di Belitung, saya, Bucit dan Tikyu pergi ke Pantai Tanjung Tinggi dan meneriakkan keinginan kami ke laut.
Bahagia… sekaligus sedih… campur aduk…
Apalagi melihat wajah si nomer 2, dia yang selalu membuat saya tertawa, malam itu lalu menghabiskan waktu merenung di dermaga. Saya pun menebak-nebak bahwa dia pasti sedang mempersiapkan diri untuk kembali menghadapi masalah yang ia tinggal di Jakarta.
Saya pun bilang sama dia, “Selama satu bulan, waktu seakan terhenti. Sebentar lagi kita pulang. Waktu akan berjalan lagi. Masalah yang sudah kita tau apa, akan kembali kita hadapi.” Dan dia cuma menanggapi singkat “Ya mau gimana. Hadapin aja.”
Dan begitulah… setelah satu bulan lebih di HK lalu 5 hari Sidoarjo… kami pun sampai di ujung kebersamaan itu.

“Setelah hampir satu setengah bulan berhenti dan berlabuh, perahu waktu siap kembali mengangkat jangkarnya.”

Saya tau akan ada teman-teman dari shooting ini yang kemudian melakukan semacam pertemuan-pertemuan sesama mantan kru HK… Namun saya juga tau benar  -berdasarkan pengalaman, bahkan pengalaman dengan Bucit dan Tikyu-  bahwa ephoria-ephoria pasca shooting semacam itu tak akan mengembalikan rasa yang sama dengan apa yang pernah dimiliki selama shooting.

Maka saya pun memutuskan untuk hanya meng sms si nomer 1 dan nomer 2 : “Terima kasih sudah menjadikan shooting film kemarin sebagai sebuah dermaga persinggahan yang menyenangkan. Selamat melanjutkan pelayaran masing-masing. Sampai bertemu di dermaga berikutnya. I love u guys.”

Begitulah… dan satu cerita pun selesai sudah.





sebuah negeri

16 11 2009

Sudah hampir sebulan saya berada di sebuah kota yang cukup jauh dari Jakarta. Dari Indonesia. Kota yang langitnya lampu semua. Kota yang manusia-manusianya berjalan kaki seperti berlari dan mobil-mobilnya berlari seperti berjalan… Kota yang tiap malam dari jendela terdengar kesibukan manusia-manusia yang sepertinya tak pernah tidur… Kota yang mulai memasuki musim dingin…
Kemarin dalam perjalanan pindah lokasi menggunakan bis yang isinya semua manusia-manusia yang saya kenal, yang sama-sama datang dari Jakarta dengan tujuan yang sama, yang sama-sama sudah hampir dua bulan disini… bis kami melewati sebuah terowongan yang sangat panjang… lalu… tiba-tiba saya berdoa dalam hati… semoga ujung terowongan ini adalah sebuah negeri yang berbeda… negeri yang asing… negeri dengan penghuni yang selama ini cuma ada di isi percakapan saya dan sahabat saya edw: manusia berkepala cermin, kelinci berbuntut ular, perempuan dengan sejuta luka di wajahnya, kodok bernama roger yang selalu lelah, marmut imut veteran perang yang selalu berkelahi dengan kura-kura preman, dan manusia yang selalu menengadahkan tangan di bawah hujan…
Saya berdoa semoga saya keluar di negeri itu… sendirian… tanpa manusia-manusia di bis… tanpa manusia-manusia yang saya kenal (atau saya pikir saya kenal)… dan bertemu mahluk mahluk asing itu… berjalan di antara mereka… sambil sesekali bercermin di manusia berkepala cermin :)
Lalu… terowongan pun berakhir… saya menoleh kanan kiri… semua masih sama… kotanya masih sama… manusia-manusianya masih sama… Hari itu bukan hari keberuntungan saya ternyata… Saya masih berada di situ juga… di sebuah zona yang sebenarnya adalah “zona kenyamanan” saya… sebuah tempat dan lingkungan dimana saya tau saya “ada”… namun entah kenapa saat memasuki terowongan, tiba-tiba saya cuma menginginkan keluar dari zona kenyamanan itu dan menjadi “tidak ada”.





malam ini

24 10 2009

malam ini saya cuma mau pergi ke pantai
menonton kelinci dan lumba-lumba berbagi lahan di bulan…





bertahan

10 09 2009

Beberapa waktu yang lalu saya bertemu dengan seorang teman saya, sebut saja YY. YY ini setahun yang lalu pernah memanggil saya untuk berbicara empat mata dan menawarkan saya untuk menjadi penulis tetap di Production House (PH) nya. Saat itu angka yang ia tawarkan terus terang sangat menggiurkan, tapi berhubung saya belum mau terikat ke salah satu PH dengan berat hati saya menolak tawaran itu. YY dengan PH nya di waktu itu bisa dibilang sedang “naik daun”. Beberapa film yang ia produksi menembus angka di atas satu juta penonton sementara biaya produksi yang ia keluarkan bisa dibilang “tidak besar”. Intinya untung gila-gilaan lah saat itu.
Anyway, beberapa waktu yang lalu saya bertemu dia lagi. Sejak pembicaraan kami terakhir, kami belum pernah bertemu lagi. Saya menanyakan kabarnya. Dan jawaban ia lumayan mengejutkan. “Gue udah gak di film. Capek.”
Sesuatu yang tidak saya harapkan keluar dari mulut yang setahun yang lalu berkata, “Ayolah bikin film sama kita. Lo liat film-film gue, semuanya untung.”
Tapi begitulah… ternyata dunia yang menguntungkan buat dia tidak bisa juga membuat dia bertahan di situ. Mungkin juga setelah urutan peristiwa yang menguntungkan, dia mengalami kerugian yang membuat dia memilih pergi. Saya juga kurang tahu. Yang saya tahu akhirnya adalah betapa susahnya memang bertahan di satu tempat ketika tempat itu memang sudah tak menghasilkan apa-apa. Cuma cinta kepada tempat itulah yang bisa membuat kita bertahan.
Seorang sutradara pernah berkata kepada saya, “Gak mungkin gue terus disini kalo gue gak cinta sama film.” atau ada lagi yang bilang, “Cuma orang-orang gila yang bisa bertahan di film.”
Buat saya simple aja… bahwa gak ada yang namanya orang gagal, yang ada cuma mereka yang memilih berhenti terlalu cepat.
Semoga UU Perfilman yang baru disahkan (yang sebenarnya isinya kurang menguntungkan bagi kami-kami yang bekerja di fiilm) tidak mematahkan semangat manusia-manusia yang sampai detik ini masih bertahan di film karena satu hal: cinta.








Follow

Get every new post delivered to your Inbox.