tahun baru (lagi)

10 01 2010

Sudah sepuluh hari lewat pergantian tahun. Belum ada yang ditulis. Mungkin tidak ada yang bisa diceritakan. Mungkin terlalu banyak yang ingin diceritakan. Mungkin tidak punya resolusi tahun baru. Mungkin terlalu banyak resolusi untuk dua ribu sepuluh.

Yang pasti tahun tetap berganti biarpun tanpa meniup terompet dan main kembang api.

Yang pasti waktu terus berjalan biarpun jam di ruang tamu sudah lama tak berfungsi.

SELAMAT DATANG 2010

:)





dermaga

7 12 2009

Saya sudah ada di Jakarta lagi… setelah hampir satu setengah bulan menjalani proses shooting film di Hong Kong (HK) plus Sidoarjo, Jawa Timur.
Seperti shooting-shooting film sebelumnya, apalagi ini di luar kota (eh… luar negeri), begitu banyak cerita, begitu banyak momen, peristiwa, apapun namanya, yang terjadi dari sebuah kebersamaan.
Seperti ketika sekitar setahun yang lalu saya shooting di Belitung, saya mengukir banyak cerita bersama dua perempuan unik: Bucit dan Tikyu, di shooting ini pun saya menemukan dua manusia… manusia yang sebenarnya sudah ada dari dulu… namun menjadi lebih dekat karena kebersamaan selama satu setengah bulan ini: sebut saja si nomer 1 dan nomer 2 ( ini mereka yang menamakan diri mereka sendiri :) )
Menjelang selesainya shooting, saya tiba-tiba teringat bahwa  si nomer 2, datang ke HK dengan masalah yang cukup berat ttg hidupnya, namun ajaibnya, dia jugalah menjadi manusia yang paling sering membuat saya tertawa selama shooting berlangsung.
Tempat favorit kami selama di HK adalah sebuah dermaga di daerah Causewaybay… disitulah dengan “norak” nya kami bertiga, di malam terakhir, menuliskan harapan-harapan kami di selembar uang 10 hk dolar, lalu melemparkannya ke laut. Tapi seberapapun noraknya, saya bahagia sekali malam itu. Sama bahagia nya dengan ketika malam terakhir di Belitung, saya, Bucit dan Tikyu pergi ke Pantai Tanjung Tinggi dan meneriakkan keinginan kami ke laut.
Bahagia… sekaligus sedih… campur aduk…
Apalagi melihat wajah si nomer 2, dia yang selalu membuat saya tertawa, malam itu lalu menghabiskan waktu merenung di dermaga. Saya pun menebak-nebak bahwa dia pasti sedang mempersiapkan diri untuk kembali menghadapi masalah yang ia tinggal di Jakarta.
Saya pun bilang sama dia, “Selama satu bulan, waktu seakan terhenti. Sebentar lagi kita pulang. Waktu akan berjalan lagi. Masalah yang sudah kita tau apa, akan kembali kita hadapi.” Dan dia cuma menanggapi singkat “Ya mau gimana. Hadapin aja.”
Dan begitulah… setelah satu bulan lebih di HK lalu 5 hari Sidoarjo… kami pun sampai di ujung kebersamaan itu.

“Setelah hampir satu setengah bulan berhenti dan berlabuh, perahu waktu siap kembali mengangkat jangkarnya.”

Saya tau akan ada teman-teman dari shooting ini yang kemudian melakukan semacam pertemuan-pertemuan sesama mantan kru HK… Namun saya juga tau benar  -berdasarkan pengalaman, bahkan pengalaman dengan Bucit dan Tikyu-  bahwa ephoria-ephoria pasca shooting semacam itu tak akan mengembalikan rasa yang sama dengan apa yang pernah dimiliki selama shooting.

Maka saya pun memutuskan untuk hanya meng sms si nomer 1 dan nomer 2 : “Terima kasih sudah menjadikan shooting film kemarin sebagai sebuah dermaga persinggahan yang menyenangkan. Selamat melanjutkan pelayaran masing-masing. Sampai bertemu di dermaga berikutnya. I love u guys.”

Begitulah… dan satu cerita pun selesai sudah.





sebuah negeri

16 11 2009

Sudah hampir sebulan saya berada di sebuah kota yang cukup jauh dari Jakarta. Dari Indonesia. Kota yang langitnya lampu semua. Kota yang manusia-manusianya berjalan kaki seperti berlari dan mobil-mobilnya berlari seperti berjalan… Kota yang tiap malam dari jendela terdengar kesibukan manusia-manusia yang sepertinya tak pernah tidur… Kota yang mulai memasuki musim dingin…
Kemarin dalam perjalanan pindah lokasi menggunakan bis yang isinya semua manusia-manusia yang saya kenal, yang sama-sama datang dari Jakarta dengan tujuan yang sama, yang sama-sama sudah hampir dua bulan disini… bis kami melewati sebuah terowongan yang sangat panjang… lalu… tiba-tiba saya berdoa dalam hati… semoga ujung terowongan ini adalah sebuah negeri yang berbeda… negeri yang asing… negeri dengan penghuni yang selama ini cuma ada di isi percakapan saya dan sahabat saya edw: manusia berkepala cermin, kelinci berbuntut ular, perempuan dengan sejuta luka di wajahnya, kodok bernama roger yang selalu lelah, marmut imut veteran perang yang selalu berkelahi dengan kura-kura preman, dan manusia yang selalu menengadahkan tangan di bawah hujan…
Saya berdoa semoga saya keluar di negeri itu… sendirian… tanpa manusia-manusia di bis… tanpa manusia-manusia yang saya kenal (atau saya pikir saya kenal)… dan bertemu mahluk mahluk asing itu… berjalan di antara mereka… sambil sesekali bercermin di manusia berkepala cermin :)
Lalu… terowongan pun berakhir… saya menoleh kanan kiri… semua masih sama… kotanya masih sama… manusia-manusianya masih sama… Hari itu bukan hari keberuntungan saya ternyata… Saya masih berada di situ juga… di sebuah zona yang sebenarnya adalah “zona kenyamanan” saya… sebuah tempat dan lingkungan dimana saya tau saya “ada”… namun entah kenapa saat memasuki terowongan, tiba-tiba saya cuma menginginkan keluar dari zona kenyamanan itu dan menjadi “tidak ada”.





malam ini

24 10 2009

malam ini saya cuma mau pergi ke pantai
menonton kelinci dan lumba-lumba berbagi lahan di bulan…





bertahan

10 09 2009

Beberapa waktu yang lalu saya bertemu dengan seorang teman saya, sebut saja YY. YY ini setahun yang lalu pernah memanggil saya untuk berbicara empat mata dan menawarkan saya untuk menjadi penulis tetap di Production House (PH) nya. Saat itu angka yang ia tawarkan terus terang sangat menggiurkan, tapi berhubung saya belum mau terikat ke salah satu PH dengan berat hati saya menolak tawaran itu. YY dengan PH nya di waktu itu bisa dibilang sedang “naik daun”. Beberapa film yang ia produksi menembus angka di atas satu juta penonton sementara biaya produksi yang ia keluarkan bisa dibilang “tidak besar”. Intinya untung gila-gilaan lah saat itu.
Anyway, beberapa waktu yang lalu saya bertemu dia lagi. Sejak pembicaraan kami terakhir, kami belum pernah bertemu lagi. Saya menanyakan kabarnya. Dan jawaban ia lumayan mengejutkan. “Gue udah gak di film. Capek.”
Sesuatu yang tidak saya harapkan keluar dari mulut yang setahun yang lalu berkata, “Ayolah bikin film sama kita. Lo liat film-film gue, semuanya untung.”
Tapi begitulah… ternyata dunia yang menguntungkan buat dia tidak bisa juga membuat dia bertahan di situ. Mungkin juga setelah urutan peristiwa yang menguntungkan, dia mengalami kerugian yang membuat dia memilih pergi. Saya juga kurang tahu. Yang saya tahu akhirnya adalah betapa susahnya memang bertahan di satu tempat ketika tempat itu memang sudah tak menghasilkan apa-apa. Cuma cinta kepada tempat itulah yang bisa membuat kita bertahan.
Seorang sutradara pernah berkata kepada saya, “Gak mungkin gue terus disini kalo gue gak cinta sama film.” atau ada lagi yang bilang, “Cuma orang-orang gila yang bisa bertahan di film.”
Buat saya simple aja… bahwa gak ada yang namanya orang gagal, yang ada cuma mereka yang memilih berhenti terlalu cepat.
Semoga UU Perfilman yang baru disahkan (yang sebenarnya isinya kurang menguntungkan bagi kami-kami yang bekerja di fiilm) tidak mematahkan semangat manusia-manusia yang sampai detik ini masih bertahan di film karena satu hal: cinta.





khayalan

17 07 2009

Dulu setelah menonton film “Matrix”, saya berpikir jangan-jangan sebenarnya saya hidup sendirian di dunia ini, dan manusia-manusia lain cuma program komputer yang diciptakan “Sesuatu Yang Besar” untuk saya.
Tentu saja seiring dengan waktu berjalan, khayalan itu memudar… walau tak jarang bisa muncul lagi… buat bahan saya berimajinasi.
Bagaimana seandainya sejak saya lahir, bahkan semua anggota keluarga saya cuma program komputer? bahwa semua yang terjadi memang bagian dari program komputer yang dibuat untuk saya? bahwa papa dan mama tidak meninggal, mereka memang cuma diprogram seperti itu?
Bagaimana seandainya setiap kejadian yang saya alami tidak pernah benar-benar terjadi? bahwa ketika saya tidak berada di suatu tempat, maka di tempat itu tak ada kehidupan sebenarnya? bahwa program tersebut cuma running di sekitar saya, apa yang saya lihat, saya dengar dan saya rasakan…
Bayangkan ketika saya melewati sebuah jalan yang ramai, begitu saya berbelok menghilang di ujung jalan, keramaian di jalan itu praktis berhenti karena saya tak ada di situ?
Atau papa dan mama yang buat saya sudah meninggal ternyata kemudian di re-program oleh Sang Pembuat menjadi manusia lain yang fungsinya cuma mengisi keramaian ketika saya jalan-jalan di mall?
Dan begitulah khayalan-khayalan absurd saya datang kemudian pergi…
Sampai tadi pagi…
Televisi menyiarkan berita itu… Pemboman di dua hotel yang berdekatan di kawasan Mega Kuningan, Jakarta. Puluhan korban luka bahkan meninggal. Indonesia marah sekaligus menangis. Jakarta berduka. Facebook penuh oleh cacian makian, berbarengan dengan doa dan rintihan. Saya… merenung menatap televisi. Lalu… saya memejamkan mata dan kembali berkhayal “ini semua cuma program komputer. tragedi ini tak benar-benar terjadi. manusia-manusia yang kesakitan yang saya lihat di televisi cuma program komputer. penderitaan itu tak benar-benar ada…”
lalu… saya membuka mata… dan untuk pertama kalinya imajinasi saya yang seabsurd apapun biasanya bisa membantu menenangkan saya, kali ini tak berfungsi…
Ini benar terjadi… bom itu benar ada… terorist-terorist itu benar ada… manusia-manusia yang sedang kesakitan itu benar-benar ada… dan cuma berjarak beberapa kilometer dari saya…
Ada yang menangis karena jadi korban, ada yang menangis untuk rekan-rekannya yang jadi korban, bahkan ada yang menangis sekedar karena tim sepakbola MU tak jadi datang karena bom itu… semua menangis…

Saya juga menangis… karena khayalan… seberapapun absurdnya… tak mampu lagi menyembuhkan rasa sakit yang dibuat oleh kenyataan…

Kemudian saya mengganti khayalan saya… “Para korban yang tak bersalah saat ini sedang mengantri untuk diberi sayap oleh Tuhan. Setelah diberi sayap, mereka akan terbang sebagai malaikat-malaikat kecil yang bercahaya.”

Ah… itu bukan khayalan… saya yakin itu kenyataan…





mimisan

11 06 2009

Dulu waktu saya masih SD, ada teman saya yang suka mimisan (menurut wikipedia, bahasa kedokterannya adalah epistaksis – keadaan pendarahan yang keluar dari lubang hidung). Nah, pokoknya dia ini gak bisa kepanasan, kelamaan sedikit di bawah sengatan matahari, langsung deh mimisan.
Walhasil yang paling sering terjadi adalah dia mimisan pas upacara bendera tiap hari Senin.
Dan jadilah dia pengunjung setia ruang UKS (Usaha Kesehatan Sekolah) setiap kali upacara.
Sementara anak-anak lain upacara, dia tiduran di ruang UKS yang adem, ditungguin salah satu guru, dibikinin teh hangat pula.
Dia beneran mimisan. Dia beneran “menderita”. Dia beneran tidak suka dengan penyakitnya itu, tapi dia juga beneran “menikmati” akibat dari penyakitnya itu. Gak perlu ikut upacara, disayang-sayang sama gurunya, dan teh hangat itu tadi.

Kemudian… beberapa hari terakhir ini saya sering banget -alias selalu- melihat wajah seorang cewek cantik di televisi yang muncul menceritakan, membeberkan, semua penderitaan yang baru saja ia alami. Jadilah dia saat ini lebih populer dari artis siapapun di Indonesia. Wartawan mengikuti dia kemana-mana, dijaga terus sama pengacaranya, plus ada pasukan yang mengawalnya.

Reaksi cewek berinisial M ini terhadap deritanya membuat saya teringat sama teman saya yang suka mimisan dulu itu. Reaksi mereka sama terhadap “penderitaan”.
Lukanya beneran. Penderitaannya beneran. Tapi si cewek M ini tau benar bagaimana menjadikan penderitaannya tidak cuma berujung jadi penderitaan semata tapi menjadi sebuah keuntungan buat dirinya.

Si cewek M saat ini sedang menikmati berada di ruang UKS yang adem, dijagain, disayang-sayang, sambil menyeruput teh hangatnya perlahan-lahan dan setitik ego di hatinya berharap “Jangan sembuh dulu dong… masih enak nih disini…”

Jadi kalau ada kalimat “berbahagia di atas penderitaan orang lain” yang ini namanya “berbahagia di atas penderitaan diri sendiri”… gosh, is it as sick as it sounds?

Mengingat teman saya yang suka mimisan tadi (eh, mimisan juga berawalan huruf M! hahaha)… kalau nanti saya punya kesempatan ketemu sama dia, saya mau tanya sama dia, “Elo kan udah tau kalo kepanasan elo bisa mimisan. Terus kenapa pas upacara elo selalu memilih berdiri di tempat yang panas sih?”

Mungkin… cewek M yang lagi ngetop-ngetopnya itu juga bisa menjawabnya…
atau dia akan menjawab, “Because my mom told me that’s the best place for me. I love my mom.





prita

4 06 2009

Prita Mulyasari yang kasusnya lagi heboh itu teman saya di SMA.
Saya tidak akan bicara banyak tentang kasusnya disini. Ribuan berita sudah membahasnya.
Disini saya cuma mau memberikan dukungan kepada seorang manusia yang kebetulan adalah teman saya yang baru saja kehilangan kebebasannya karena bersuara. Dia bersuara dari hati dan disebut penipu.
Padahal hati tidak pernah menipu…
Kita (termasuk manusia-manusia yang terlibat di kasus ini) tau itu…





doa

24 05 2009

tadi sore doa penutup di gereja:

“… biarkan matahari selalu ada di jendela kami.. biarkan pelangi selalu mengikuti hujan kami…”

doa yang bagus… :)

amiiiinnnnn…





first post as newly wed

11 05 2009

Jumat, 8 Mei 2009, tiga hari yang lalu, saya resmi jadi seorang istri.

Keesokan sore setelah menikah, saya pergi ke rumah sakit menjenguk keponakan kesayangan saya yang terkena demam berdarah dan masuk ICU.

Dan… begitulah kebahagiaan dan kesedihan datang dalam satu paket…

Hidup terlalu singkat untuk semua rasa yang ada di dunia. Maka nikmatilah apapun yang kau rasakan. Dan bersyukurlah bahwa hatimu bukan terbuat dari batu…